Artikel Kategori

Polbangtan Bogor dan Dharma Wanita BPPSDMP Sumbang Korban Gempa Palu

Posted in Berita on Okt 10, 2018

Banyak cara menggalang dana untuk mendapatkan bantuan dana kemanusiaan, mahasiswa Polbangtan Bogor berhasil mengumpulkan dana sumbangan melalui ide kreatif berupa pagelaran marching band pada beberapa titik di Kota Bogor, dilanjutkan dengan kegiatan mahasiswa di dalam kampus, sehingga terkumpul total Rp 95,4 juta.

Dana serupa dikumpulkan oleh Dewan Pimpinan Pusat Dharma Wanita (DPP-DW) BPPSDMP yang berhasil menggalang dana sebesar Rp25 juta, yang dikumpulkan dari DPP DW pusat dan UPT di daerah, di bawah koordinasi Sekretaris DPP-DW BPPSDMP, Santi Ambarwati.

Dana bantuan kemanusiaan dari mahasiswa Polbangtan Bogor diserahkan oleh Ketua BEM Polbangtan Bogor, Yandri M Ramadhan dan Sekretaris DPP-DW BPPSDMP, Santi Ambarwati kepada Kepala BPPSDMP, Momon Rusmono di Jakarta, Rabu (10/10) didampingi Sekretaris BPPSDMP, Andriko Noto Susanto.(dpb)

Tenaga Ahli Budidaya Cabai untuk Republik Uzbekistan

Posted in Berita on Okt 04, 2018

JAKARTA. Sebagai tindak lanjut dari Hasil Kesepakatan antara Kementerian Pertanian Republik Indonesia dengan Kementerian Pertanian Republik Uzbekistan tanggal 5 Februari 2018 di Jakarta, Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) c.q. Pusat Pelatihan pertanian telah mengirimkan 4 (empat) tenaga ahli pertanian yang berasal dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang ( 1 orang), Widyaiswara dari Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang (2 orang) dan dari Petani dari Lembang (1 orang). Keempat tenaga ahli Pertanian berangkat ke Uzbekistan pada tanggal 15 Agustus 2018 dan kembali ke Indonesia pada tanggal 20 September 2018.

Rombongan tenaga ahli cabai tiba di Tashkent International Airport Jam 06.00 pagi pada tanggal 16 Agustus disambut langsung oleh pejabat Kementerian Pertanian Uzbekistan dan perwakilan Dinas Pertanian Provinsi dan perusahaan pertanian Uzbekistan. Selanjutnya keempat tenaga ahli melaksanakan tugas di 3 provinsi berbeda (Tashkent, Kashkadarya dan Ferghana) dan satu negara bagian yaitu Republik Karakalpakstan. Secara estafet tenaga ahli berkeliling ke berbagai daerah yang sudah kabupaten-kabupaten yang terdapat di masing-masing provinsi.

Selama 1 bulan lebih berada di Uzbekistan, tenaga ahli telah melaksanakan rangkaian kegiatan yang bertujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada petani cabai dan semua pihak terkait dengan pengembangan komoditas cabai. Diantara rangkaian kegiatan itu adalah: 1) melakukan observasi di lahan cabai dan menemukan permasalahan sekaligus memberikan solusi, 2) memberikan saran-saran kepada petani agar bisa melaksanakan SOP budi daya cabai yang baik dan benar,3) membuat laporan singkat tentang penemuan dilapangan dan solusi dari penemuan dilapangan 4) melakukan seminar tingkat nasional yang dihadiri oleh seluruh stakeholder (Dinas Pertanian, peneliti dan Perguruan Tinggi, swasta) serta istitusi pengambil kebijakan komoditas cabai nasional, 3) memberikan materi kuliah umum kepada mahasiswa Tashkent State Agrarian University (TSAU) dan Tashkent Mamleketlik Agrar Universiteti Nokis Filiali tentang Budidaya cabai, dan Budidaya Paprika 4) menyusun buku panduan umum praktik budidaya cabai yang dapat digunakan oleh pelaku usaha komoditas cabai.

Hasil observasi menunjukkan bahwa ada beberapa tahapan budidaya cabai di Uzbekistan yang perlu diperbaiki, misalnya cara membuang cabang air pada cabai, jarak tanam, perlunya pemberian pupuk organik, cara pengairan yang baik, perlunya tanaman cabai diberi ajir agar tanaman tidak mudah rebah,. Selama keliling observasi ke beberapa titik lahan budidaya cabai, sambutan hangat dan bersahabat dari para petani Uzbekistan memberikan semangat tersendiri bagi para tenaga ahli. Para petani begitu antusias menerima saran dari tenaga ahli, karena budidaya cabai bagi mereka merupakan pengalaman pertama. Sebagaimana diungkapkan oleh seorang petani di Distrik Mirishkor, Abdul Rasyid, “Senang bertemu Anda, ilmu dan pengalaman Anda dan negara Anda sangat berguna bagi petani disini.”

Seminar nasional bertajuk “Budidaya Cabai di Uzbekistan, Permasalahan dan Solusinya” dilaksanakan di Tashkent State Agrarian University pada tanggal 10 September 2018 dibuka oleh Wakil Menteri Pertanian didampingi oleh Rektor TSAU. Seminar dihadiri oleh lebih dari 150 peserta yang terdiri dari pihak kementerian pertanian, FAO, universitas, perusahaan swasta, petani dan juga mahasiswa. Pada sesi pertama tenaga ahli cabai dari Indonesia menyampaikan materinya, dimulai dari Bapak Ahsol Hasyim, Bapak Abd. Rohim, kemudian diakhiri Ibu Elvina Herdiani. Pada kesempatan yang sama pejabat dari Kementerian Pertanian Uzbekistan dan pejabat TSAU mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada keempat tenaga ahli. Setelah seminar, secara khusus keempat tenaga ahli mendapatkan penghargaan dan penghormatan dengan menerima piagam dan pemakaian baju kebangsaan Uzbekistan Selain itu, tenaga ahli Dr. Ahsol Hasyim melakukan sharing knowledge bersama Profesor dan dosen Fakultas Pertanian tentang Pengendalian hama secara terpadu (Integrated Pest Management) pada tanaman sayuran di daerah tropik.

Disamping itu rektor Tsau melalui Dekan Fakultas Pertanian meminta kepada Dr. Ahsol Hasyim untuk memberikan kuliah umum kepada mahasiswa baru, mahasiswa tingkat 3 (S1), mahasiswa program Master sampai mahasiswa program doktor tentang hama dan penyakit cabai , budidaya paprika di rumah kasa serta Pengendalian hama thrips dengan menggunakan predator (Biological control). Beberapa mahasiswa secara khusus menyampaikan pandangannya tentang materi yang telah mereka terima.

Salah satunya adalah Azizah, mahasiswa semester 3 jurusan Agrobiologi, Fakultas Pertanian, TSAU, “pengetahuan dan pengalaman baru bagi kami. Bangga dan bahagia bisa memilki kesempatan bertemu dengan para ahli cabai dari Indonesia.” Beberapa mahasiswa sangat tertarik untuk melaksakan penelitian bersama peneliti di Indonesia terutama tentang budidaya cabai dan budi daya Paprika.

Dan di akhir tugasnya, sebelum kepulangan ke Indonesia, tenaga ahli diminta untuk menyusun buku panduan praktik budidaya cabai yang selanjutnya akan digunakan oleh para pelaku utama dan pelaku usaha pertanian komoditas cabai di Uzbekistan

Polbangtan Diluncurkan, Kementan Siap Cetak Wirausaha Muda Pertanian

Posted in Berita on Sep 20, 2018

Kementerian Pertanian (Kementan) secara resmi meluncurkan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) di Bogor, pada Selasa (18/09/2018). Institusi pendidikan tinggi vokasi dibawah binaan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan ini merupakan transformasi dari Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP). Pengembangan pendidikan vokasi memang tengah menjadi fokus pemerintahan Jokowi-JK untuk mendorong daya saing bangsa.

“Transformasi ini merupakan upaya untuk regenerasi tenaga terampil di bidang pertanian yang punya semangat wirausaha atau socioagripreneur. Menjaga keberlanjutan pembangunan pertanian dengan menghasilkan sumberdaya manusia pertanian yang profesional, mandiri dan berdaya saing,” kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam sambutannya.

Amran menyatakan, transformasi ini merupakan jawaban Kementan atas perubahan dan tangangan sektor pertanian yang berkembang pesat, sekaligus implementasi dari amanat Undang Undang (UU) No. 12 Tahun 2012 Tentang Pendiddikan Tinggi.

“Perubahan ini tidak dimaksudkan sekedar untuk mencetak tenaga terampil dibidang pertanian. Tetapi lebih dari itu, menciptakan para wirausahawan bidang pertanian. Lulus dari Polbangtan harus menciptakan lapangan kerja, bukan mencari lapangan kerja,” terang Amran.

Secara umum terdapat beberapa perubahan konsep yang menyertai transformasi ini. Jika semula STPP hanya berorientasi menghasilkan penyuluh pertanian saja dengan tiga program studi, kini dengan Polbangtan program studinya menjadi 13 Program Studi yang ditawarkan baik untuk Sarjana Terapan (S.Tr) maupun Diploma III (D III). Untuk Sarjana Terapan jurusan yang dibuka antara lain: Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan, Penyuluhan Perkebunan Presisi, Teknologi Produksi Tanaman Perkebunan, Penyuluhan Peternakan dan Kesejahteraan Hewan, Agribisnis Hortikultura, Teknologi Benih, Teknologi Pakan Ternak, Produksi Ternak, serta Agribisnis Peternakan. Dan untuk Diploma III jurusan yang bukan adalah Kesehatan Hewan, Mekanisasi Pertanian, Budidaya Hortikultura, dan Budidaya Peternakan.

Polbangtan juga akan menerapkan konsep pembelajaran yang lebih menekankan praktek melalui teaching factory atau farm teaching. 
“Proses pembelajaran Polbangtan berorientasi untuk menghasilkan Wirausahawan Muda di bidang pertanian. Jadi 30 persen teori dan 70 % praktek,” jelas Amran.

Model pembelajaran ini mengajak peserta didik masuk ke lingkungan sesungguhnya di tempat kerja. Tujuannya, menumbuhkan kemampuan kewirausahawan peserta didik yang menghasilkan produk yang sesuai dengan tuntutan pasar atau konsumen.

Untuk mendukung hal tersebut, Kementan menjalin kerjasama dengan 29 Perguruan Tinggi untuk Program Wirausaha Muda Pertanian (PWMP), dan beberapa perusahaan swasta yang bergerak di sektor pertanian. Untuk sektor swasta, pada kesempatan tersebut juga ditandatangani nota kesepahaman dengan 6 pimpinan perusahaan. Bidang perkebunnan dengan PT Astra Agro Lestari Tbk dan PT Sampoerna Agro Tbk, bidang peternakan dengan PT Charoen Phokphan dan PT Japfa Comfeed, serta bidang tanaman pangan dan hortikultura dengan PT East West Seed dan PT Sabila Farm.

Kelembagaan Polbangtan yang tertuang dalam Permentan No. 25 Tahun 2018 tentang Organisasi Tata Kerja Polbangtan ini berlaku untuk enam institusi, diantaranya: Polbangtan Medan, Polbangtan Bogor, Polbangtan Yogyakarta –Magelang; Polbangtan Malang, Polbangtan Gowa, dan Polbangtan Manokwari.

Sebanyak 4.487 orang mahasiswa di 6 Polbangtan ini akan dididik oleh pengajar professional yang memiliki kompetensi dan kualifikasi akademik mumpuni, serta harus memiliki sertifikat pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (PEKERTI) dan Applied Approach.

"Capaian kinerja pertanian Indonesia sangat pesat. Produksi meningkat bahkan beberapa komoditas sudah ekspor. Iklim berusaha kondusif terbukti dengan naiknya investasi pertanian. Sumbangsih sektor pertanian terhadap ekonomi nasional semakin signifikan. Tren positif ini perlu dikembangkan, sehingga menjadi insentif untuk menyemangati generasi muda di sektor pertanian," tegas Amran.

Percepat UPUS Banyuasin, Kepala Badan PPSDMP Lepas 100 Babinsa

Posted in Berita on Sep 13, 2018

Dalam rangka mendukung percepatan tanam di Provinsi Sumatera Selatan khususnya di Kabupaten Banyuasin, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Kementerian Pertanian, Momon Rusmono, melakukan upacara pelepasan 100 Babinsa dalam rangka percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) di Korem 044 Dempo, Palembang, Sumatera Selatan. (13/9/2018)

Momon Rusmono mengatakan, dengan sinergitas antara babinsa, penyuluh dan gapoktan, diharapkan mampu menggerakkan dan melakukan mulai dari penambahan LTT, Pengolahan lahan, mengolah tanah khususnya di Kabupaten Banyuasin. Karena Banyuasin mempunyai potensi yang sangat besar yaitu 31 persen dari total luas lahan di Provinsi Sumatera Selatan.

"Potensi tanam di Banyuasin untuk bulan September ini luar biasa. Kalau 80 persen saja bisa direalisasikan dari target yang ada dan bisa meningkatkan IP menjadi 200, maka produktivitasnya akan bagus sekali. Karena sampai September, lahan yang sudah diolah itu ada 35.000 hektar, belum lagi lahan yang sudah diseprot. Kalau semua bergerak di lapangan, Insya Allah target yang ditetapkan Kementerian Pertanian ini bisa terwujud", tegasnya. (dpb)

Berbagi Pengalaman Mengolah Pangan dengan Sahabat dari Afrika

Posted in Berita on Sep 05, 2018

Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri dan Non Alignment Movement (NAM) Center melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) - Pusat Pelatihan Pertanian menyelenggarakan kegiatan International Training on Processing Technology of Agricultural and Animal Husbandry Product for African Countries: Sharing Best Practices to Achieve SDGs, pada tanggal 2-10 September 2018 di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan untuk Produk pangan olahan dilanjutkan dengan Pengolahan hasil peternakan di Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu.

Pelatihan bertujuan untuk berbagi pengalaman terbaik (Best Practise Sharing) dalam hal pengolahan tanaman pangan dan hasil ternak kepada para peserta dari negara-negara Afrika serta mendorong tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Pelatihan di ikuti oleh 13 orang peserta dari 12 negara Afrika yaitu Afrika Selatan, Burundi, Burkina Faso, Ghana, Guinea Bissau, Kenya, Mozambik, Namibia, Nigeria, Tanzania, Sierra Leone dan Zimbabwe.

Hadir pada pembukaan pelatihan Kepala Pusat Pelatihan Pertanian BPPSDMP, Widi Hardjono, Sekretaris Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Al Busyra Basnur, Direktur NAM Center Roni P Yuliantoro, Kepala BBPP Batu dan sebagai tuan rumah acara pembukaan Kepala BBPP Ketindan Kresno Suharto. “Berbagi pengalaman dalam hal pengolahan produk pangan dan produk olahan peternakan adalah tujuan pelatihan internasional ini’ kata Kepala Puslatan Widi Hardjono saat membuka pelatihan di BBPP Ketindan, Senin (3/9)

"Peserta pelatihan akan diajak untuk kunjungan lapang ke beberapa tempat yang berpengalaman menghasilkan banyak produk kualitas ekspor, dan menghadirkan narasumber yang sukses berwirausaha maupun kompeten di bidang pengolahan hasil maupun keamanan pangan," ujar Widi Hardjono.

Ditemui sesaat setelah acara Pembukaan Pelatihan Internasional ini Sekretaris Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Al Busyra Basnur mengatakan “Indonesia memiliki pengalaman dan catatan positif di dalam mengembangkan bidang pertanian, di sisi lain kita melihat beberapa Negara sahabat yang membutuhkan pembelajaran, untuk itulah diadakan pelatihan ini. jelasnya.

“Indonesia telah mencatat berbagai kemajuan di berbagai bidang tidak hanya di bidang pertanian, pengalaman dalam membangun ekonomi ini yang akan kita bagikan kepada negara negara sahabat kita, kali ini dari negara Afrika. Indonesia dalam hal ini dimotori Kementerian Luar Negeri melakukan kerjasama dengan negara sahabat dalam berbagai bidang” “Diharapkan para peserta mendapatkan hal baru yang dipelajari selama pelatihan ini dan sekembalinya dari sini dapat di terapkan di Negara nya masing-masing” menutup sesi wawancara.

NAM Center memiliki andil dalam terselenggaranya pelatihan internasional ini, seperti disampaikan Direktur NAM Centre Roni P Yuliantoro “ Prosesnya kami (NAM Center) bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia akan mengadakan Pelatihan di bidang pertanian, kami menawarkan ke Negara-negara di Afrika, dan 12 negara yang hadir ini, merupakan negara yang berminat.

“Pelatihan ini merupakan salah satu bentuk kerja sama antar negara non blok, dan pertanian adalah salah satu bidang kerja sama antar negara negara anggota yang tersebar dari Asia, Afrika dan Amerika Latin.

Pemanfaatan Teknologi Drone untuk Bertani

Posted in Berita on Agu 28, 2018

Salah satu agenda Rakor Optimalisasi Pemanfaatan Alsintan (OPSIN) dan Sosialisasi Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) Prov Lampung adalah demo pemanfaatan Drone untuk Pertanian yang berlangsung di Kebun Praktek BPP Lampung.

Kami mengundang pemuda dari Temanggung yang berhasil menciptakan drone penyemprot tanaman yang diberikan nama 'Hope' untuk diperkenalkan kepada petani di Lampung," kata Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kementerian Pertanian Momon Rusmono, di Bandarlampung, Senin (27/8).

“Drone ini dimanfaatkan untuk penyemprotan air, pestisida atau pupuk untuk lahan maupun tanaman yang dapat dikendalikan. Menurutnya, dengan menggunakan alat tersebut dapat menyemprot tanaman atau lahan seluas lima hektare dalam waktu satu jam.

“Tidak tertutup kemungkinan, tidak lama lagi Drone ini masuk kategori Alsintan"Jika proses SNI maupun ISO telah selesai, kami melalui Dirjen Sarana dan Prasarana Pertanian Kementan akan menggunakan alat tersebut dan disebarkan kepada petani agar proses pengolahan lebih cepat," tutup Momon Rusmono .

Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Widi Hardjono mengatakan keberadaan droneHope bisa membantu mengatasi permasalahan petani khususnya Lampung. Sebab, Lampung menjadi salah satu dari tujuh provinsi penyangga beras di Indonesia.

“Kalau kita mau mengoptimalkan produksi padi. Tapi yang menjadi kendala adalah kurangnya tenaga kerja. Kendala yang dihadapi kadang-kadang adanya kekeringan, pola penanaman yang mundur, hal-hal seperti itu bisa diatasi salah satunya dengan pemanfatan alsintan,” ujarnya.

Widi mengakui bahwa tenaga kerja di bidang pertanian semakin berkurang. Sehingga modernisasi alsintan sangat dibutuhkan untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja tersebut. “Siapa yang sekarang mau mencangkul? Lewat Kementan sudah memberikan banyak traktor roda dua dan roda empat, buat jagung sudah ada. Yang jadi masalah alat itu mahal sekali pengadaannya, repotnya penggunaannya belum maksimal, makanya kita adakan optimalisasi alsintan,” tandasnya

Antisipasi Musim Kemarau, Kementan Optimalkan Alsintan

Posted in Berita on Agu 27, 2018

Optimalisasi pemanfaatan alsintan persiapan olah tanam dan olah lahan sebagai antisipasi Musim Kemarau, menjadi tema besar dari Rakor Optimalisasi Pemanfaatan Alsintan (OPSIN) dan Sosialisasi Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) Prov Lampung yang diadakan Senin 27 Agustus 2018 di BPP lampung.

“Untuk mengantisipasi musim kemarau ini, pemanfaatan Alsin tetap harus di optimalkan untuk olah lahan sebagai persiapan musim tanam, kata Momon Rusmono Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Kementan.

“Ada lima poin yang harus dilakukan yaitu “Pertama, Optimalisasi Alsintan yang sudah disalurkan, Realokasikan Alsintan yang belum optimal pemanfaatannya, Optimalisasi UPJA, Optimalkan Brigade Kecamatan serta Pelatihan Alsintan untuk Pemuda Tani” tutur Momon Rusmono, sesaat setelah membuka Rapat koordinasi

Peserta rakor adalah seluruh Kepala Dinas Pertanian, Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian, Kepala Bidang Produksi Pertanian, Komandan KODIM dan KORAMIL, Penyuluh Pertanian, Ketua dan Pengurus Unit Pengelola Jasa Alsintan (UPJA) Kabupaten Kota se- Provinsi Lampung.

Tampak hadir pada Rakor tersebut, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Widi Hardjono dan Kepala BPP Lampung Bhakti Poerwadikarta beserta jajaran nya

Atasi Paceklik, PJ Upsus Sumsel Ajak Petani OKI Tanam Padi IP 300

Posted in Berita on Agu 24, 2018

OKI Sumsel - Pemerintah RI menginstruksikan pemangku kepentingan sektor pertanian pada 17 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan menyokong petani melakukan indeks pertanaman IP 300 pada sawah irigasi teknis, hal itu ditempuh Kementerian Pertanian Republik Indonesia untuk mendukung langkah mengantisipasi masa paceklik 2018.

Seruan tersebut dikemukakan oleh Penanggung Jawab Upaya Khusus Sumatera Selatan - PJ Upsus Sumsel - Momon Rusmono pada 'tanam perdana IP 300 padi' bersama Poktan Sido Makmur di Desa Sumber Agung, Kecamatan Lempuing, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Kamis siang (23/8).

"Petani harus merasa rugi kalau sawahnya tidak digunakan selama empat bulan. Apa nggak sayang, selama empat bulan tidak menghasilkan apa-apa. Ingat, petani adalah profesi, bukan pekerjaan maka harusnya disebut profesional, karena menghasilkan uang dan membuka peluang kerja seperti bayar operator TR2," kata Momon Rusmono, yang juga menjabat Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan.

Menurutnya, Kementan mengawal ketat produksi padi di bulan Agustus sampai Oktober yang merupakan masa paceklik produksi padi akibat musim kemarau. Pengawalan ini penting agar pemerintah secara dini dapat menyelesaikan persoalan yang dihadapi petani di masa paceklik agar mereka tetap memperoleh nafkah dari hasil kerja kerasnya, bahkan meningkatkan pendapatan.

"Setiap hari ada tanam. Setiap hari ada panen. Semua itu tidak lepas dari dukungan inovasi telnologi, faktor sosial, dan peran petani sebagai ujung tombak dalam mendukung luas tambah tanam disingkat LTT sebagai jembatan untuk mencapai swasembada pangan," kata Momon Rusmono yang sukses mengantar Kalimantan Barat (Kalbar) masuk 'tiga besar' capaian LTT nasional.

Tampak hadir PJ Upsus OKI Prof Risfaheri; Sekda Pemkab OKI, H Husin MM; Kadistan OKI, Syarifudin; Kabid Tanaman Pangan Pemprov Sumsel, Ilfantria, Ketua Gapoktan Sido Makmur, Sutrisno; dan Kasie Penyuluhan Pemprov Sumsel, Erwin Jauhari; Koordinator Penyuluh Pemprov Sumsel, Ernizal; dan Kasie Serealia, Rafli Rasyad.

Kabid Ilfantria mengajak petani di seluruh Sumsel tetap melakukan olah lahan, kemudian menanam padi setelah turun hujan pada lahan tadah hujan dan lahan kering melalui pemanfaatan pompa air membangun embung, longstorage, dam-parit, dan sumur air tanah dangkal.

Kadistan Syarifudin mengingatkan masa paceklik yang kerap terjadi pada Agustus sampai Oktober, harus disikapi dengan tetap mengolah lahan, begitu turun hujan pada September barulah menanam padi. (dpb)

Tanam Perdana IP 300 Padi di Ogan Komering Ilir

Posted in Berita on Agu 23, 2018

SUMSEL - Pemerintah melalui Kementerian Pertanian mengawal ketat proses produksi padi pada bulan Agustus hingga Oktober yang merupakan masa paceklik akibat musim kemarau. Pengawalan ini penting agar pemerintah secara dini dapat menyelesaikan persoalan yang dihadapi petani.

"Setiap hari ada tanam. Setiap hari ada panen. Semua itu tidak lepas dari dukungan inovasi telnologi, faktor sosial, dan peran petani sebagai ujung tombak dalam mendukung luas tambah tanam disingkat LTT sebagai jembatan untuk mencapai upaya," kata Penanggung Jawab Upsus Pajale Sumatera Selatan - PJ Upsus Sumsel, Momon Rusmono pada kegiatan tanam perdana IP 300 Padi di Desa Sumber Agung, Kecamatan Lempuing, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), hari ini, Kamis (23/8).

Momon Rusmono mendorong petani di seluruh Sumsel tetap melakukan olah lahan dan kemudian menanam padi setelah turun hujan pada lahan tadah hujan dan lahan kering melalui pemanfaatan pompa air membangun embung, longstorage, dam-parit, dan sumur air tanah dangkal.

Menurutnya, selama ini terjadi paceklik di bulan Agustus hingga Oktober, maka harus disikapi dengan tetap mengolah lahan pada Agustus sehingga begitu turun hujan pada September barulah menanam padi. (dpb)

Mentan Berikan Penghargaan Nasional kepada Pelaku Pembangunan Pertanian Tahun 2018

Posted in Berita on Agu 17, 2018

Menteri Pertanian, Amran Sulaeman yang diwakili Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pertanian, Syukur Iwantoro memberikan Penghargaan Tingkat Nasional Tahun 2018 kepada penyuluh pertanian, petani, kelembagaan penyuluhan pertanian, kelembagaan petani, kelembagaan pelatihan pertanian dan Widyaiswara bidang pertanian. Penghargaan kepada para teladan tersebut berikan sebagai bentuk apresiasi dan motivasi dari Pemerintah atas prestasi dan kinerja yang baik dalam mendukung dan mensukseskan program pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian. (17/8/2018).

Syukur Iwantoro mengungkapkan penerima penghargaan merupakan para teladan pertanian berprestasi yang sudah melalui seleksi yang ketat mulai dari kecamatan, kabupaten, provinsi, sampai pemerintah pusat. "Kita harapkan nanti mereka akan menjadi motivator bagi masyarakat di pedesaan di daerah masing-masing. Sehingga akan tumbuh generasi muda dan bisa membantu meningkatkan dan mendukung pertanian secara detail di lapangan yang akhirnya membuat masyarakatnya bisa lebih sejahtera di desanya", tambhanya.

Kepala Badan Pengembangan dan Penyuluhan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Momon Rusmono selaku ketua panitia penerima penghargaan mengatakan bahwa pemberian penghargaan ini dilakukan tiap tahun dan dirangkaikan dengan hari besar nasional, para penerima penghargaan tersebut diikutsertakan mengikuti rangkaian peringatan HUT RI ke-73 antara lain: Menghadiri Rapat Paripurna DPR-RI, dan Pidato Kenegaraan Presiden RI, mengikuti Renungan Suci di Taman Makam Pahlawan Kalibata, mengikuti upacara peringatan detik-detik Proklamasi Hari kemerdekaan RI ke73 di Istana Negara dan Silaturahim Presiden Rl dengan para Teladan.

Momon Rusmono mengatakan, Kementerian Pertanian telah memberikan penghargaan kepada para teladan di bidang Pertanian sejak tahun 2006. Tahun 2018 ini Kementerian Pertanian memberikan Penghargaan Tingkat Nasional bagi 27 orang teladan di bidang Pertanian yang terdiri dari 3 orang Petani Berprestasi, 3 Gapoktan berprestasi, 3 Kelembagaan Ekonomi Petani Berprestasi, 3 orang Penyuluh Pertanian Teladan, 3 Balai Penyuluhan Pertanian Berprestasi, 9 orang Pengelola Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Berprestasi, 3 orang Widyaiswara Berprestasi

Menurutnya, pemenang dipilih berdasarkan seleksi yang dilakukan melalui penilaian yang objektif, transparan dan dapat dipertanggung jawabkan. Keberhasilan pembangunan sektor pertanian tidak terlepas dari keberhasilan kinerja Kementerian Pertanian dalam mewujudkan Sumber Daya Manusia Pertanian sebagai pelaku utama yang professional, berkualitas, andal dan berdaya saing.

Dijelaskan lebih lanjut "Untuk mewujudkan Swasembada Pangan dan Lumbung Pangan 2045 sangat diperlukan pelaku utama bidang pertanian yang berkualitas dan memiliki jiwa kewirausahaan sehingga mampu mengembangkan usaha agribisnis yang menembus pasar dunia".