Artikel Kategori

Dengan Digital, Pelatihan SDM Pertanian Sentuh Semua Level

Posted in Berita on Jun 29, 2020

CIAWI – Pandemi Covid-19 turut mengubah perilaku di semua sektor, termasuk pertanian. Pandemi membuat sentuhan digital kian cepat, termasuk peningkatan kualitas SDM pertanian. Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian menyiasati hal ini dengan menggelar pelatihan digital.

Hal tersebut disampaikan Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi saat Pertemuan Evaluasi Penyelenggaraan Pelatihan Semester I Tahun 2020, di Horison Ultima Bhuvana-Ciawi Bogor, (29/6) yang diikuti 10 kepala UPT Pusat Pelatihan Pertanian lingkup BPPSDMP.

Menurut Dedi Nursyamsi, menghadapi era new normal, pelatihan tetap harus berjalan secara optimal. “Pelatihan harus tetap produktif menghasilkan SDM pertanian yang professional, berdaya saing dan berjiwa wirausaha tinggi. Bagaimana caranya? Tentu melalui metode yang berbeda untuk saat ini. Karena saat ini kita masih ada dalam pandemi covid-19, metodenya melalui virtual,” tuturnya.

Dedi mencontohkan pelatihan Bertani On Cloud yang digelar secara virtual menarik follower yang luar biasa bahkan mencapai ribuan.

“Intensitasnya kita tingkatkan, tema-temanya kita tingkatkan, substansinya juga kita perbaiki terus hingga inovasi teknologi pertanian benar-benar bisa sampai kepada praktisi pertanian dan sampai kepada petani. Utamanya, bagi petani milenial bagaimana memanfaatkan inovasi teknologi untuk meningkatkan produktivitas mulai dari hulu sampai dengan hilir,” ujarnya.

Dedi juga mengingatkan bahwa kunci peningkatan produksi pangan adalah bagaimana memanfaatkan keahlian yang dimiliki SDM untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Tunjukan bahwa SDM memiliki peran dalam peningkatan produktivitas.

Sementara Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Bustanul Arifin Caya menyampaikan dukungan UPT Pelatihan Pertanian memiliki ciri khas masing-masing.

Menurutnya dalam menyelenggarakan pelatihan unggulan di masa pandemi, UPT mampu meng-create pelatihan sesuai dengan kondisi saat ini.

“Saya apresiasi UPT Pelatihan mengemas penyelenggaraan pelatihan di masa pandemi ini. Dan untuk widyaiswara yang kompeten dalam menghasilkan petani yang berkualitas dan professional yang selanjutnya berkorelasi dalam peningkatan produktivitas pertanian”, ujar Bustanul.

Bustanul juga menambahkan bahwa pelatihan dikatakan berhasil apabila banyak diminati dan memberi manfaat dalam meningkatkan pendapatan masyarakat.

Secara terpisah Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan peningkatan kualitas SDM adalah hal yang penting.

"SDM pertanian di masa depan harus diisi dengan yang berkualitas. Harus muncul petani-petani milenial yang akan memberikan kemajuan dan inovasi untuk pertanian di Tanah Air. Oleh karena itu, regenerasi petani harus mulai dilakukan," katanya.(cha)

Petani Milenial Madura Sukses Hasilkan Produk Bernilai Ekspor

Posted in Berita on Jun 17, 2020

MADURA-Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) kerap menyampaikan bahwa, Kementerian Pertanian akan terus mengoptimalkan SDM Pertanian terutama petani milennial baik di desa maupun di kota (urban farming dan family farming) untuk menggenjot produksi dan produktivitas bahkan sampai menuju pasar ekspor.

SYL juga menegaskan bahwa keyakinan pada anak muda para generasi milennial dibidang pertanian ini terus meningkat.“ Saya yakin mereka itu berkembang, dan saya percaya anak muda yang mau terjun dibidang pertanian, punya peluang kehidupan dan ekonomi yang lebih baik”

“Apalagi dengan memanfaatkan tekhnologi yang tersedia maka dunia dalam genggaman. Generasi millennial bidang pertanian saat ini tak hanya sekadar bertani, tetapi juga cerdas berwirausahatani dengan memanfaatkan teknologi“ tambah SYL

Mahfudz (26 tahun), petani milenial asal Kabupaten Sampang, Madura, alumni Pelatihan Kewirausahaan Berbasis Kawasan Bagi Petani Muda yang diselenggarakan oleh Balai Besar Pelatihan (BBPP) Ketindan, cakap membaca peluang pasar berbudidaya tanaman melon.

Budidaya melon yang dilakukan Mahfudz sejak tahun 2016 ini, memang sudah memiliki pasar buah segar yang cukup baik. Kota-kota besar seperti Surabaya, Malang dan Jakarta sudah dijajakinya. Dengan luas lahan 1 Ha, Mahfudz bisa menghasilkan 20-30 ton/ha/ dengan harga jual Rp.8000-Rp.10.000/ kg. Dalam satu tahun tanam, Mahfudz menanam 4 kali dan sekali panen mencapai 60-70 juta, jika diasumsikan omzetnya mencapai 250 juta rupiah.

Meskipun sudah mendapatkan hasil yang cukup besar dari berjual produk buah segar, Mahfudz masih belum puas untuk berkreasi. Melihat potensi buah melon yang berukuran kecil dan cacat tetapi tidak rusak dan tidak laku dipasaran, ia kemudian berinovasi.

Buah tersebut diolah menjadi produk pasca panen bernilai ekonomis tinggi. Produk olahan dipasarkan dengan brand “Napote Fruit”berupa dodol, sirup, selai dan jus melon merupakan bahan pangan lokal berkualitas ekspor.

Mahfudz mengatakan bahwa dari hasil berjualan produk olahan tersebut, ia saat ini mendapatkan tambahan penghasilan sebesar 2-3 juta rupiah/sekali produksi. Dalam sebulan biasanya ia mampu berproduksi sebanyak 4 kali bahkan lebih. Hal ini tergantung dari stok bahan mentah dan orderan konsumen yang diperoleh melalui pemasaran media online.

“Sebagai Ketua Kelompok Gemah Ripah Arrahmah, saya berharap kedepannya dapat berproduksi setiap hari dan secara kontinyu. Ujar Mahfudz. Ia juga bekerjasama dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) saat ini sebanyak 7 orang dari ibu-ibu KWT dijadikan sebagai karyawan tetap. Rata-rata mereka berpenghasilan Rp.100.000/hari.

Kesuksesan didalam berbudidaya melon dari on farm bahkan sampai ke off farm bukanlah hasil kerja keras sendiri.Tentu ada pihak-pihak yang membantu dan mensupport. Mereka adalah para widyaiswara dari BBPP Ketindan, Penyuluh Kecamatan Sokobanah, Dinas Pertanian Kabupaten Sampang dan Pemerintah Kabupaten Sampang.

Dedi Nursyamsi, Kepala Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) mengomentari hal ini mengatakan “Inilah waktu yang tepat bagi petani untuk menjadi pahlawan bangsa. Petani milennial harus mampu menjadikan aktivitas tidak hanya on farm tetapi mampu menuju off farm yang lebih memiliki nilai jual, terutama pasca panen dan olahannya.

Petani millennial harus mampu membuat terobosan-terobosan baru, dan harus mau berinovasi di jaman Industri 4.0 ini,” pungkas Dedy.

P4S Damai NTT, Manfaatkan Daun Kelor Jadi Camilan Kaya Manfaat

Posted in Berita on Jun 15, 2020

Pemanfaatan pangan lokal secara masif dinilai mampu memberikan kontribusi positif untuk perkuat kedaulatan pangan nasional. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) meminta para petani di tanah air agar lebih mandiri dan maju. Hal ini akan memengaruhi beragam hasil pertanian sehingga bisa diolah menjadi produk-produk lain yang bernilai tambah. " Mandiri itu berarti semua bisa disiapkan dengan kemampuan dan kekuatan kita sendiri," kata SYL.

Mendukung gerakan Ketahanan Pangan Nasional melalui diversifikasi pangan, petani di wilayah Kabupaten Kupang giat memproduksi olahan pangan lokal berbahan dasar Kelor untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat di wilayahnya.

Provinsi NTT merupakan salah satu provinsi penghasil kelor dan telah ditetapkan menjadi provinsi kelor sekaligus menjadikan kelor sebagai komoditas unggulan lokal. Daun kelor kaya akan vitamin A, vitamin B1 (tiamin), vitamin B2 (riboflavin), vitamin B3 (niacin), vitamin B6, serta vitamin C, mineral, dan senyawa tanaman bermanfaat lainnya. Selain itu, kandungan polifenol dalam daun kelor memiliki sifat melawan kanker dan dapat mengurangi risiko seperti penyakit jantung dan diabetes.

Selain untuk sayuran, kelor juga dapat dimanfaatkan menjadi suatu olahan makanan yang digemari oleh lapisan masyarakat dengan citarasa yang enak nan bergizi tinggi yaitu dengan dibuat olahan camilan berupa stick kelor

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian yaitu Prof. Dedy Nursyamsi menegaskan bahwa “Masalah pangan adalah masalah yang sangat utama, hidup matinya suatu bangsa. Sudah waktunya petani tidak hanya mengerjakan aktivitas on farm, tapi mampu menuju ke off farm, terutama pasca panen dan olahannya”.

Hal itulah yang di lakukan Oleh P4S KWT Damai yang berlokasi di Desa Noelbaki Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang dengan ketua Clara Tawa, tetap aktif , kreatif, inovatif dalam mengolah pangan lokal terutama kelor menjadi nilai jual yang mensejahterankan kelompok dan masyarakat

“Kelor sangat banyak di NTT sayang jika hanya di jadikan sayur. Kami mengolah (kelor) jadi lebih inovatif untuk menghasilkan keuntungan lebih bagi keluarga dan kelompok, juga menjadi panganan terkini yang di sukai semua usia” ujar Clara

“Kami sangat senang karena produk kami di apresiasi oleh Kementan dalam hal ini Balai Besar PP Kupang dan akan di bantu pemasarannya dengan memasukkannya ke dalam gerai milik balai “ ungkap Clara

Clara melanjutkan "Untuk sementara kami baru memproduksi skala lokal di kota/kabupaten Kupang dan warga lokal saja yang pemasarannya kami titip di pusat oleh-oleh khas NTT yang ada di Kota Kupang dan juga ada outlet di Sekretariat P4S Damai,"

Clara dan kelompoknya memproduksi stik setiap 2 hari , sekali produksi bisa sampai 150-200 bungkus, Untuk bisa memproduksi stik kelor bahan bakunya di ambil di kebun sendiri maupun di beli di pasar dengan harga murah. Dan dikemas dalam plastic kapasitas 200 gr. Stik kelor tersebut dijual dengan harga sekitar Rp 17 ribu per kemasan.

Meski baru diproduksi secara terbatas, menurut dia, permintaan masyarakat, khususnya di Kota maupun Kabupaten Kupang cukup besar. stick ini sangat diminati konsumen karena selain rasanya enak dan gurih diyakini sangat baik untuk kesehatan dan mencegah kolesterol jahat di dalam tubuh.

"Tidak menutup kemungkinan ke depan kami akan memproduksi secara massal karena sangat digemari masyarakat, “ungkap Clara

Hal ini juga tak terlepas dari dukungan penyuluh pertanian pertanian Maria Owa yang selalu mendampingi dan mendorong P4S KWT Damai untuk selalu berkreasi dengan produk-produk olahannya, Produk olahan Kelor tersebut dipasarkan di wilayah Kabupaten Kupang. Kementerian Pertanian akan konsisten mendukung tumbuh kembangnya, serta mengawal P4S melalui pembinaan, pemberdayaan serta pengawalan untuk kemajuan P4S binaan BPPSDMP.

Siaran Ulang Gerakan Ketahanan Pangan Nasional Di Era New Normal Pandemic Covid-19

Posted in Berita on Jun 12, 2020

Sobatani saksikan siaran ulang Mentan Sapa Petani dan Penyuluh Pertanian dengan tema Peran Petani dan Penyuluh Dalam Gerakan Ketahanan Pangan Nasional Di Era New Normal Pandemic Covid-19 hari Jumat tanggal 12 Juni 2020 pukul 08.00-11.00 WIB. Klik Tayangan Video

Dukung Ketahanan Pangan, YESS Komitmen Lahirkan Wirausahawan Muda Pertanian

Posted in Berita on Mei 29, 2020

Kementerian Pertanian (Kementan) berkomitmen serius untuk mencetak wirausahwan muda pertanian guna percepatan regenerasi petani. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) meyakini generasi milenial yang terjun di sektor pertanian, berpeluang memiliki kehidupan dan ekonomi yang lebih baik. "Apalagi dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia maka dunia dalam genggaman kalian," ujar SYL optimis.

Sejalan dengan SYL, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi tak hentinya memberikan motivasi kepada para petani milenial.

"Dalam masa Covid-19 ini, banyak peluang yang bisa dimanfaatkan oleh pengusaha pertanian milenial khususnya di bidang produksi on-farm," terang Dedi di Jakarta, Kamis (28/5/2020).

Saat pengukuhan duta petani milenial beberapa waktu yang lalu, ia menyampaikan data yang ada saat ini terdapat 33,4 juta petani di Indonesia, hanya 9% atau 2,5 juta yang berusia muda.

Sementara itu, sebanyak 91% didominasi oleh petani berusia tua. Sudah saatnya tongkat estafet pembangunan pertanian di ambil alih oleh generasi milenial.

Melalui Program Youth Enterpreneurship and Employment Support Services (YESS), Kementan bersama International Fund for Agricultural Development (IFAD) berkomitmen melahirkan wirausahawan milenial tangguh, maju, mandiri dan modern.

Selengkapnya : https://bit.ly/2M5b3X8

Antisipasi Pasca Pandemi, Kementan Siapkan SDM Pertanian Bertarung di Dunia Usaha

Posted in Berita on Mei 15, 2020

JAKARTA – Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) melakukan penyiapan SDM Pertanian Bidang Hortikultura dengan peningkatan kompetensi dan daya saing melalui Konsensus Rancangan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Bidang Hortikultura yang dilaksanakan melalui virtual pada, Jumat (15/05).

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo berkali-kali menegaskan Pembanguan pertanian ini harus lebih maju tidak boleh stuck (macet). “pertanian harus makin maju mandiri dan modern. Ada tantangan baru yang harus kita jawab dari masa ke masa dan era ini dengan teknologi, kuncinya ada di SDM”, papar SYL.

Untuk itu momentum ini menjadi sangat penting karena dari rancangan KKNI ini menjadi salah satu pendukung untuk meningkatkan kompetensi SDM pertanian khususnya di bidang Hortikultura.

Dalam forum ini dilakukan kesepakatan bersama dari 4 rancangan kualifikasi jabatan di bidang Hortikultura, yaitu KKNI Bidang Hortikultura Tanaman Sayuran, KKNI Bidang Hortikultura Tanaman Buah, KKNI Bidang Hortikultura Tanaman Obat Rimpang, dan KKNI Bidang Hortikultura Florikultura seperti Anggrek, Aglonema dan Krisan Potong.

Secara terpisah, Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi mengatakan, sejalan dengan arahan Presiden Jokowi, tahun ini pembangunan nasional berorientasi pada peningkatan SDM yang berbasis kompetensi.

“Pembangunan sumberdaya manusia jadi perhatian yang serius karena kita tidak bisa terus menerus mengandalkan sumberdaya alam yang melimpah tanpa tersedianya kualitas SDM yang berkompeten termasuk bidang Hortikultura, khususnya dalam menghadapi pasca pandemi Covid-19 ini”, ujar Dedi.

Dalam kesempatan ini, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Bustanul Arifin Caya juga menyampaikan rancangan KKNI ini sebagai bentuk upaya mewujudkan SDM Pertanian yang maju mandiri dan modern.

“Rancangan KKNI bidang Hortikultura yang merupakan kolaborasi BPPSDMP dengan Ditjen Hortikultura ini menjadi prioritas. Dalam meningkatkan SDM tentunya harus menyiapkan standar yang dibutuhkan dunia usaha dan dunia industri. KKNI ini sekaligus juga menjadi bridging antara pelatihan dan pendidikan dalam menentukan kurikulum dalam pendidikan dan pelatihan”, pungkas Bustanul.

Ditambahkan oleh Bustanul dasar penyusunan rancangan KKNI ini berdasarkan standar kompetensi kerja yang telah tersusun sebelumnya dengan menggandeng enterpreneur muda pertanian, lembaga pelatihan/pendidikan, perguruan tinggi, P4S, LSP Pertanian dan dunia usaha/dunia industri.

“Hasilnya, jabatan yang dihasilkan dari penyusunan 4 Rancangan KKNI Hortikultura ini adalah KKNI Bidang Hortikultura Tanaman Sayuran memiliki 14 jabatan, KKNI Bidang Hortikultura Tanaman Buah dihasilkan 16 jabatan, KKNI Bidang Hortikultura Tanaman Obat Rimpang dihasilkan 11 jabatan, dan KKNI Bidang Hortikultura Tanaman Florikultura dihasilkan 12 jabatan”, jelasnya.

KKNI yang telah tersusun, selanjutnya dapat digunakan oleh institusi pendidikan dan pelatihan sebagai acuan dalam pengembangan program dan kurikulum. KKNI juga bisa digunakan dunia usaha sebagai dasar kompetensi rekruitmen SDM.

“Begitu pula ketika dunia usaha atau dunia industri membutuhkan legal formal pengakuan kompetensi seseorang akan profesi atau jabatan tertentu, KKNI ini juga sebagai standar penyusunan skema sertifikasi kompetensi oleh lembaga sertifikasi profesi,” papar Bustanul.

Bustanul berharap Konsensus ini, bisa segera diajukan kepada Menteri Pertanian untuk ditetapkan. Sehingga kualifikasi jabatan dalam KKNI ini mendorong terciptanya link and match antara dunia pendidikan, pelatihan dan lembaga sertifikasi kompetensi SDM dengan dunia usaha/ dunia industri.

Sementara itu Plt Direktur Bina Standardisasi Kompetensi dan Pelatihan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan Muchtar Azis mengatakan, ketika kita mendesain sebuah standar KKNI maka basis yang digunakan adalah basis industri, meskipun dalam kontennya melibatkan pendidikan.

“Karena nantinya, KKNI bisa menjadi instrumen bagi lembaga-lembaga pendidikan, khususnya vokasi, dalam meng-create sebuah program maupun kurikulum. Program dan kurikulum ini kita harapkan berbasis KKNI, agar nantinya standar dan kualifikasinya kita desain berdasarkan kebutuhan dari industri. Itulah sebabnya dalam forum konsensus ini kita harus melibatkan lembaga pendidikan, lembaga pelatihan, maupun sektor yang lain,” paparnya.

Ditegaskan Muchtar, meski pelaksanaan rumusan ini melibatkan industri tidak berarti domain pendidikan dilupakan. Karena dari hasil konsensus ini yang akan mengeksekusi adalah lembaga pendidikan dan lembaga pelatihan, serta lembaga sertifikasi.

Ia pun berharap berharap komitmen dalam penerapannya. Muchtar menilai hal ini sangat penting. Karena, setelah KKNI dipayungi penetapan oleh Mentan, yang harus dilakukan selanjutnya adalah bagaimana kita mengimpelmentasikannya, khususnya pada lembaga pendidikan, pelatihan, dan sertifikasi.

“Karena dari sisi suplai tenaga kerja, komponen yang bertanggung jawab adalah lembaga pendidikan dan pelatihan. Oleh karena itu lembaga ini harus sesuai dengan industri. Dan yang bisa menjadi instrumen rujukan adalah standar kompetensi maupun kualifikasi yang kita konsesuskan sekarang,” paparnya.(Cha)

Wahai Milenial, Jadilah Petani alias Pemuda Tampan Masa Kini

Posted in Berita on Mei 05, 2020

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yassin Limpo terus mendorong anak-anak muda termasuk kalangan milenial mau bertani. Dia meyakini generasi muda menjadi penentu kemajuan pertanian nasional.

Menurut Mentan, estafet petani selanjutnya berada pada pundak generasi muda. Sebab, mereka mempunyai inovasi dan gagasan kreatif yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan pertanian.

“Generasi milenial adalah masa depan sektor pertanian. Generasi yang mampu memanfaatkan teknologi untuk pertanian. Dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia, dunia dalam genggaman mereka,” paparnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi mempertegas pendapat Menteri SYL. Menurutnya, keberadaan para petani milenial sangat diperlukan untuk menjadi pelopor sekaligus membuat jejaring usaha pertanian. “Mereka (petani milenial) diharapkan mampu menarik minat generasi milenial menekuni usaha di bidang pertanian. Apalagi, sudah banyak petani milenial yang kini telah menjadi pengusaha sektor pertanian dan mengembangkan usahanya dari hulu hingga hilir,” ujarnya, Senin (04/05).

Salah satu contoh milenial yang menekuni pertanian adalah Shofyan Adi Cahyono. Pemuda asal Kabupaten Semarang, Jawa Tengah itu kini menjadi Duta Petani Milenial.

Selengkapnya : https://bit.ly/2z5JVUJ

Omzet Ekspor Duta Petani Andalan Asal Jabar Tembus Sampai Ratusan Juta

Posted in Berita on Mei 04, 2020

Ulus Pirmawan, salah satu dari 66 petani Indonesia binaan Kementerian Pertanian dan telah dikukuhkan menjadi Duta Petani Milenial oleh Menteri Pertanian awal April lalu. Saat ini dia sibuk berbagi pengalamannya dalam bertani.

"Setelah dikukuhkan menjadi Duta Petani Andalan, saya akan terus berbagi pengalaman kepada petani dan masyarakat lainnya tentang apa yang saya lakukan selama ini dalam melakukan agribisnis sayuran dari hulu hingga hilir," jelas Pria berusia 46 tahun yang juga pengelola Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Wargi Panggupay, saat ini fokus untuk merambah pasar ekspor.

"Rencana mulai bulan Juni, saya akan mengekspor baby buncis Kenya yang saya budidayakan sendiri bersama para petani mitra. Dengan volume ekspor 10-15 ton per bulan dan estimasi harga perkg sekitar Rp 18 ribu, bisa diperoleh omzet penjualan mencapai ratusan juta rupiah," ujarnya semangat.

Ulus Pirmawan, sosok petani sayuran yang ulet dan kini sukses bisnis pertanian yang telah dirintisnya sejak tahun 1993. P4S Wargi Panggupay memiliki luas lahan enam hektar dengan tujuh green house yang ditanami aneka komoditas sayuran berbagai jenis seperti cabai rawit, cabai merah, tomat, lettuce, romaine, dan brokoli.

Bersama lima kelompok tani binaan, P4S Wargi Panggupay juga memasok sayuran ke berbagai pasar di daerah Bandung, Yan’s Fruit and Vegetables supplier sayuran milik alumni magang Jepang dan juga rutin memasok 60 komoditas sayuran ke Toko Tani Indonesia di Jakarta dan Bogor.

Banyak kalangan masyarakat yang datang ke P4S Wargi Panggupay untuk belajar pertanian dari seorang Ulus. Petani, akademisi, petugas pertanian, dan masyarakat lainnya silih berganti datang untuk belajar pertanian, sharing knowledge di P4S Wargi Panggupay. Ulus menjadi salah satu role model suksesnya bisnis pertanian dan pemberdayaan masyarakat, terbukti dengan berbagai penghargaan yang diraih Ulus bersama dengan kelompok taninya.

Salah satu penghargaan kepada Ulus Pirmawan adalah menjadi Petani Teladan oleh Food Agriculture Organization (FAO) yang diberikan pada tahun 2017. Tekadnya kuat untuk menciptakan berbagai model pengembangan bisnis pertanian melalui site plan yang dirancangnya untuk diimplementasikan.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam berbagai kesempatan mengatakan bahwa Kementan akan mempercepat regenerasi petani dengan meningkatkan peran generasi muda pertanian dalam mengembangkan dan memajukan sektor pertanian agar lebih prospektif dan berpeluang ekspor.

"Saya makin percaya anak muda yang mau terjun di bidang pertanian punya peluang kehidupan dan ekonomi yang lebih baik. Dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia maka dunia dalam genggaman kalian," ujar SYL.

Selengkapnya : https://bit.ly/35qDUxU

Omset Bisnis Sayuran Petani Binaan Kementan Ini Menggiurkan

Posted in Berita on Apr 29, 2020

Dodih petani sayuran dari Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat, adalah salah satu dari sekian banyak petani sukses, binaan Kementerian Pertanian.

Seorang petani sayuran dari Lembang, Bandung, Jawa Barat, yang melakukan budidaya 70 jenis sayuran  seperti paprika aneka warna, aneka jenis cabai, brokoli, kol, terung, buncis, tomat, head lettuce, sawi, kentang, ubi, dan kabocha,

Produk sayuran mereka dipasarkan bersama kelompok taninya ke berbagai daerah seperti Bandung, Jakarta, Tasikmalaya, dan Padalarang. Komoditas  baby buncis Kenya bahkan sudah rutin di ekspor ke Singapura, Dodih mengungkapkan sampai saat ini usahanya memiliki omzet hingga 100 juta per bulan. 

“Alhamdulillah, dengan terpilihnya Saya sebagai salah satu Duta Petani Milenial oleh Kementerian Pertanian, memotivasi saya untuk lebih giat melakukan regenerasi petani dan memberdayakan masyarakat sekitar agar lebih maju,” ujar Dodih yang juga Ketua P4S Lembang Agri , Senin (27/04/2020).

Regenerasi petani yang dilakukan Dodih, salah satunya dibuktikan dengan merintis pemasaran online dengan para pemuda tani yang terbentuk dengan nama kelompok Agri Muda yang berlokasi di desanya, Cibodas Lembang.  Untuk mensiasati pemasaran produk di tengah pandemi Covid-19 para petani muda alumni Pelatihan Teknis Agribisnis Sayuran dengan Onsite Training Model yang diselenggarakan oleh BBPP Lembang bekerjasama dengan Taiwan Technical Mission ini,membuat situs penjualan online komoditas sayuran jualsayuran.com.  “Responnya dari masyarakat cukup baik, dan saat ini kami masih open order untuk wilayah kota Bandung dan sekitarya, kedepan kami akan upayakan untuk merambah daerah lain”, papar Dodih.

Selengkapnya : https://bit.ly/3aQUJDe

Belajar Pertanian Melalui E-Learning

Posted in Berita, Pengumuman on Apr 23, 2020

SobaTani untuk yang tertarik dengan dunia pertanian mari belajar bersama melalui E-Learnig Pusat Pelatihan Pertanian

akses di sini ya http://elearningpuslatan.com/