Artikel Kategori

Genjot SDM Profesional Mandiri Berdaya Saing Dan Berjiwa Wirausaha Melalui 3 Pilar

Posted in Berita on Jan 17, 2020

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) telah mempertegas untuk segera menindaklanjuti Visi misi bapak presiden pada pembangunan pertanian Indonesia yang Maju, Mandiri dan Modern. Instruksi mentan SYL ini diwujudkan melalui program utama Kementerian Pertanian tahun 2020 yg juga diturunkan salah satunya menjadi Program Aksi Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian. 
 Ditambah lagi tantangan sektor pertanian saat ini adalah menarik minat generasi muda ke pertanian. Hal ini disampaikan Kepala Badan PPSDMP, Dedi Nursyamsi saat membuka Rapat Pimpinan lingkup Badan PPSDMP, di Garut (16/1). 

“Bapak menteri SYL selalu mengatakan tujuan pembangunan pertanian yaitu Menyediakan pangan bagi 267 jt jiwa dari sabang sampai merauke, tingkatkan kesejahteraan petani dan meningkatkan ekspor. Ini menjadi acuan kita semua dan menjadi sumber inspirasi sumber kekuatan dan sumber bertindak kita semua sebagai warga kementan”, tegas Dedi. 
 Apa yang bisa dilakukan BPPSDMP untuk mewujudkan instruksi tersebut, lebih lanjut dijelaskan oleh Dedi, BPPSDMP punya 3 program aksi yang harus dilakukan yaitu Gerakan Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani), penyuluhan pendidikan vokasi dan pelatihan mendukung petani pengusaha milenial, penyuluhan pendidikan vokasi dan pelatihan mendukung program utama Kementan. 
 “BPPSDMP mempunyai 3 pilar. Melalui 3 pilar ini lah kita genjot SDM yg profesional mandiri berdaya saing dan berjiwa wirausaha yg akan mampu meningkatkan kesejahteraan petani, yg akan mampu menyediakan pangan bagi 267 jiwa, dan mampu meningkatkan ekspor. Berarti SDM Pertanian yang akan memberikan kontribusi terbesar didalam mencapai tujuan pembangunan pertanian. Untuk itu BPPSDMP harus mampu mendorong dan menghasilkan generasi muda pertanian yang maju, mandiri dan modern yang diwujudkan melalui Kostratani yang pusat gerakannya ada di tingkat kecamatan. Kostratan yg akan dibangun dari tingkat pusat hingga kecamatan sebanyak 6.193 sampai dengan tahun 2021. Genjot dan perbaiki IT, kelembagaan diperbaiki, sarana dan prasarana, dan koorporasi (pertanian berjamaah) yg sedang tumbuh. Kostratani juga mempunyai tugas utk meningkatkan kapasitas para penyuluh”, ujar Dedi. 

Gerakan KostraTani ini juga direspon positif oleh wakil rakyat di DPR, kalangan asuransi dan perbankan serta para pemangku kepentingan sehingga menjadikan Kostratani sebagai salah satu program utama Kementan
 Selain itu Dedi juga menjelaskan bahwa diperkirakan hanya 8% milenial dari 33 juta petani di seluruh Indonesia, yang menjadi tantangan BPPSDMP Kementan melakukan regenerasi pertanian melalui penyuluhan, pendidikan dan pelatihan pertanian dengan sentuhan teknologi 4.0 agar kalangan milenial tertarik kembali bertani, seperti diinstruksikan Mentan SYL. 

"Ada 33 juta petani. Dari jumlah tersebut, hanya delapan persen yang tergolong milenial. Sisanya kolotnial. Ini tantangan kita semua untuk regenerasi petani, agar anak muda kembali tertarik ke pertanian, dengan meningkatkan jumlah petani milenial. Di saat yang sama, Kementan khususnya BPPSDMP ditugasi meningkatkan kesejahteraan 33 juta petani tersebut," kata Dedi.
 Dedi pun menyebut sejumlah petani milenial yang terbukti layak menjadi panutan petani milenial di seluruh Indonesia antara lain Sandi Octa Susila dari Cianjur penggagas one stop shooping; Ulus Pirnawan dari Lembang yang mengekspor baby buncis; Rizal Fahreza dari Garut pengembang kawasan agrowisata Eptilu. Khudori dari Garut yang mengembangkan pembibitan dan pengolahan Gnol menjadi chips. 
 Dan pada akhir arahannya Dedi menjelaskan apa yang harus dilakukan BPPSDMP yang ketiga adalah mendukung Program-Program utama Kementan, seperti Gratieks, Grasida, KUR, Sikomandan, Propaktani, PMS, Gedor Horti, serta Perbenihan dan inovasi Teknologi. 

“Kalau ingin memajukan pertanian yang maju mandiri dan modern, maka gunakan cara-cara pertanian yg modern, gunakan mekanisasi peetanian, pakai olah tanah dgn cara modern yg biasa dilakukan 1 bulan kini lakukan dgn 1 hari. Semua apa yang kita lakukan harus bertujuan ke Program Kementan. Saya akan bertindak tegas terhadap anasir yg kinerjanya tdk baik, jelek dan tidak produktif”, kata Dedi dengan tegas. 
 Hadir pada acara tersebut Staf Khusus Menteri Pertanian, Lutfi Halide dan Firdaus Hasan, Jajaran Eselon 2 BPPSDMP dan Administrator serta pengawas lingkup BPPSDMP. (Cha)

Peningkatan Kapasitas Fasilitator Desa Program READSI

Posted in Berita on Des 18, 2019

Sebanyak 150 Fasilitator Desa Program READSI mengikuti kegiatan Peningkatan Kapasitas Program READSI (Rural Empowerment And Agricultural Development Scaling Up Initiative) yang berlangsung selama 3 hari mulai 18 s.d 20 Desember 2019 di Hotel Best Western Palu Sulawesi Tengah.

Kegiatan di buka secara resmi oleh Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Bustanul Arifin Caya (Rabu, 18/12) tampak hadir mendampingi Staf khusus Mentan, Firdaus Hasan, dan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Tengah, Trie Iriani Lamakampali.

Memberikan motivasi di hadapan peserta, Staf Khusus Mentan Firdaus Hasan, menekankan artinya kerja keras dan niat yang baik dalam pengabdian masyarakat melalui program READSI ini. “Kalau masyarakat butuh, harus sediakan waktu karena itu bearti mereka percaya pada bapak/ ibu” ujar Firdaus. “Jangan pernah berpikir berapa yang akan kita dapat, kerja saja yang baik rejeki itu sudah ada yang atur” menutup sesi motivasi malam itu.

Penyuluh, Kopasusnya Pertanian

Posted in Berita on Nov 01, 2019

Di sela sela mengikuti rangkaian acara HPS2019 di Kendari, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi berkesempatan menemui penyuluh.

Di depan penyuluh wilayah sulawesi tenggara, Dedi Nursyamsi memotivasi para penyuluh sekaligus memaparkan arah kebijakan pertanian yang ditetapkan oleh mentan SYL

“Penyuluh itu otak nya Petani, Penyuluh itu kopassus nya pertanian itu yang pertama di sampaikan Menteri Pertanian SYL, kalau penyuluh nya hebat petani nya juga hebat, begitu juga sebaliknya”, ujar Dedi.

Pembangunan pertanian memerlukan orang orang bermental kopasus siapa itu? Penyuluh untuk itu penyuluh harus pintar, harus gesit harus cerdas apalagi sekarang problem nya makin komplek

“Pesan mentan jadilah penyuluh yang di rindukan petani caranya? Mungkin gak kita gak pernah berkunjung ke petani dan di rindukan petani? Orang jawa bilang tresno jalaran suka kulino, cinta karena sering bersua berjumpa dan berkomunikasi”, tegasnya.

“Kalau penyuluh aktif berkomunikasi dengan petani dari menanam sampai menjual produk saya yakin penyuluh akan di rindukan oleh petani.”

Tugas mulia untuk insan pertanian yang bertangung jawab untuk menyediakan pangan kepada 260 juta penduduk

Instruksi Mentan ada Dua hal yang akan di kerjakan oleh insan pertanian indonesia Kita sebagai insan pertanian harus menjalankan kebijakan satu data jadi kedepan tidak ada lagi data yang berbeda data harus satu padu Akurasi data menentukan kebijakan yang tepat yang akan di ambil

Kemudian akan di bangun Agriculture War Room yang berisi data pertanian seluruh Indonesia

Siapa yang mengirim data dari daerah ke pusat? Kostratani (Komando Strategis Pembangunan Pertanian Tingkat Kecamatan)

Siapa pasukan nya? BPP yang di dalam nya ada penyuluh, maka dari itu perlu ditingkatkan fungsi BPP,

Kedua BPP akan di revitalisasi menjadi Konstratani pasukan nya di perkuat dengan sdm yang menguasai IT harus ada komputer, internet,drone untuk keperluan pertanian

Tiap konstrantani akan di perkuat brigade brigade yang sesuai dengan potensi wilayah, contoh kalau memang potensi nya peternakan maka di perlukan penyuluh peternakan dsb

Jambore Pertanian 2019, BPPSDMP Ajak Milenial jadi Pengusaha Pertanian

Posted in Berita on Okt 18, 2019

Sekitar 20 petani milenial sukses hadir bersama 1.500 petani, penyuluh pertanian, widyaiswara dari seluruh Indonesia pada kegiatan 'Jambore Pertanian 2019' di Kebun Raya Cibodas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat pada Jumat pagi [18/10] yang dibuka oleh Kepala BPPSDMP Kementan, Prof Dedi Nursyamsi mewakili Mentan Amran Sulaiman dan dihadiri segenap jajaran Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian - Kementerian Pertanian RI [BPPSDMP].

"Keterlibatan generasi milenial dalam mendukung, mengembangkan dan memajukan sektor pertanian sangat dibutuhkan. Pertanian harus didukung kalangan milenial sebagai generasi muda, mendukung upaya pemerintah melakukan regenerasi petani sekaligus melahirkan pengusaha muda pertanian yang berdampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat pertanian Indonesia," kata Dedi Nursyamsi dalam arahannya usai mengukuhkan 21 petani milenial didampingi Sekretaris BPPSDMP Kementan, Siti Munifah pada ´Jambore Milenial Pelaku dan Pendamping Pembangunan Pertanian´ di Cibodas.

Menurutnya, sektor pertanian apabila dikelola dengan baik, benar dan serius akan menjadi bidang yang prospektif, bahkan ada banyak komoditas pertanian yang dapat diekspor dan menjadi peluang menambah pundi-pundi devisa negara.

"Petani milenial seperti Sandi Octa Susila dan Agus Ali Nurdin adalah dua sosok penting dari puluhan, ratusan bahkan ribuan petani milenial sukses di seluruh Indonesia yang dapat menjadi contoh keberhasilan petani milenial menjawab tantangan jaman di era 4.0. BPPSDMP Kementan berupaya melakukan replikasi atas prestasi mereka kepada kalangan milenial lainnya di seluruh Indonesia," kata Dedi Nursyamsi.

Dedi Nursyamsi menyebut keduanya sebagai figur utama dari generasi milenial yang memilih bertani sebagai pilihan masa depan. Omset usaha masing-masing mencapai ratusan juta rupiah per bulan. "Kedua petani milenial membuat Kementan yakin lumbung pangan dunia 2045 akan kita capai."

Penyuluh Pertanian

BPPSDMP Kementan menyadari peran petani dan penyuluh pertanian di era 4.0, mengingat perannya sebagai ujung tombak kekuatan pangan Indonesia. Penyuluh pertanian dianalogikan oleh Prof [R] Dedi Nursyamsi sebagai ´pasukan infantri´ yang hadir di depan memimpin petani sebagai ´serdadu pangan´ nasional.

"Penyuluh itu ibarat ujung tombak. Ibaratnya perang, yang paling terdepan itu pasukan infantrinya adalah penyuluh," kata Dedi Nursyamsi.

Pemerintah RI dalam lima tahun ke depan memprioritaskan pembangunan SDM Indonesia yang siap menghadapi globalisasi di era industrialisasi 4.0, Kementerian Pertanian RI khususnya BPPSDMP Kementan melaksanakan perannya untuk mengembangkan petani milenial yang menguasai teknologi informasi dan komunikasi. dpb

Mentan Groundbreaking Pembangunan Politeknik Enjiniring Pertanian

Posted in Berita on Okt 04, 2019

Menteri Pertanian Amran Sulaiman melakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama pembangunan Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) di kawasan Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan), Serpong, Tangerang.

Amran mengatakan, pemerintah selama ini bekerja meningkatkan sektor pertanian dengan membangun infrastruktur untuk menyejahterakan masyarakat. “Sejak awal pemerintahan Jokowi-JK kita canangkan transformasi pertanian tradisional menjadi yang modern. Kita membangun infrastrukur, kita meningkatkan alat, mesin pertanian yang pada gilirannya adalah menyejahterakan petani Indonesia,” kata Amran Sulaiman di BBP Mektan, Serpong, Tangerang, Jumat (4/10).

“Sejak awal pemerintahan Jokowi-JK kita canangkan transformasi pertanian tradisional menjadi yang modern. Kita membangun infrastrukur, kita meningkatkan alat, mesin pertanian yang pada gilirannya adalah menyejahterakan petani Indonesia,” kata Amran Sulaiman di BBP Mektan, Serpong, Tangerang, Jumat (4/10).

Amran merasa langkah yang dilakukan itu membuat sektor pertanian bisa bersaing dengan negara lain seperti Thailand dan Vietnam. Ia mengharapkan, pertanian Indonesia bisa mengejar ketertinggalan dari negara seperti Jepang dan Brasil. Salah satu langkah yang dilakukan adalah meningkatkan Sumber Daya Manusia melalui perguruan tinggi seperti PEPI. Sebab, kata Amran, teknologi cukup penting dalam mengejar ketertinggalan.

“Setelah itu 5 tahun ke depan pembangunan SDM. Kita siapkan pemuda tani Indonesia. Tanpa teknologi tidak mungkin kita akan akan bersaing dengan negara lain makanya kita dirikan PEPI. Aku hafal cuma PEPI nya,” ujar Amran.

Amran mengungkapkan, setiap tahun selalu ada peningkatan jumlah mahasiswa yang masuk ke bidang pertanian. Atas dasar tersebut, Amran optimistis sektor pertanian semakin maju.

Lebih lanjut, Amran menginginkan adanya PEPI ini bisa membuat bangsa Indonesia tidak banyak bergantung kepada negara lain khususnya dalam memproduksi barang-barang pertanian.

“Mahasiswa ini kami ingin nanti seluruh implemen alat berat itu diproduksi di PEPI. Jadi itu diproduksi di PEPI itu mimpi besar. Tolong Pak Rektor membuat peta jalan grand design untuk PEPI tahun berapa kita bisa buat di sini dan itu pasti bisa,” tutur Amran Sulaiman. “Sekarang traktor sudah kita buat, tinggal buat engin, buat produksi engin dari sini dan yang memproduksi nanti semua mahasiswa dari sini,” tambahnya. Pembangunan PEPI langsung dimulai tahun 2019 dengan membangun gedung dan diikuti berbagai fasilitas penunjang lainnya. Saat ini, PEPI baru masuk angkatan pertama dengan menerima sekitar 72 mahasiswa.

Sumber : http://bit.ly/354Wb3k

Kementan Ekspor Tenaga Terlatih Petani Milenial Magang ke Taiwan

Posted in Berita on Sep 13, 2019

Kalian semua adalah duta bangsa Indonesia. Yang mendapatkan tugas dan kehormatan untuk melaksanakan magang di negara Taiwan. Atas nama bangsa Indonesia melaksanakan tugas negara yang sangat mulia magang untuk menyerap ilmu pengetahuan dan teknologi vokasi pertanian yang nanti dibawa ke negara kita dipraktekan. Kalian harus menjadi petani milenial yang membawa Indonesia ke lumbung pangan dunia 2045” Prof. Dedi Nursyamsi, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembagnan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian melepas petani milenial peserta magang Taiwan angkatan pertama di Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang. (13/09/2019)
 “Saat ini kita bisa ekpor tenaga manusia terlatih. Kalian semua sudah dilatih disini jadi kalian termasuk tenaga kerja yang berkemapuan, terlatih. Jangan lupa serap ilmunya bagaimana caranya sampai packaging dan pemasaran itu harus kalian serap”. Begitu pesan Prof. Dedi ke 54 Petani Milenial terlatih yang siap magang ke Taiwan 22 September 2019 nanti.

“Serap ilmu pengetahuan, serap pengalaman bagaimana mengelola pertanian dari hulu sampai hilir. Teknologi inovasi itu yang harus diimplementasikan untuk menekan biaya produksi. Inovasi teknologi sangat penting dalam meningkatkan produktivitas itu yang harus kalian kuasai”. Prof. Dedi menambahkan “Jangan berhenti disitu teruskan bagaimana melakukan pengolahan-pengolahan untuk menghasilkan beribu bahkan berjuta produk turunan. Karena produk turunan itu yang memberikan nilai tambah jauh lebih besar dari apa yang kita lakukan di hulu”.  
 Intinya kualitas harus tetap kita jaga dari mulai kebun sampai dengan meja makan. Itu yang membuat harga produk pertanian bagus. Sandi 24 tahun tetapi dia mampu menghasilkan tomat 1 kilo harus 9 tomat tidak 10 atau 8. Karena kalau 1 kilo tomatnya 9 butir harganya 19 ribu tapi kalau 1 kilo 10 atau 11 harganya Cuma 1500. “Artinya kualitas, seperti yang diinginkan konsumen kita. Hanya gara-gara jumlah butir dalam satu kilo harganya belipat ganda itu kualitas”. Tegas Prof. Dedi Nursyamsi.

Komoditas berdaya saing harus produktivitas tinggi dengan kualitas tinggi yang terjaga dan kontinuitas yang terjamin. Karena itu tegas Prof. Dedi “kalian semua sebagai generasi penerus harus mampu menghasilkan produktivitas yang tinggi. Kalau rata5 ton/ha kalian harus bisa menghasilkan 10ton /ha padi. kalau sekarang sayuran, horti buah-buahanan hanyanya 5-10 ton/ha kedepan kalian harus bisa 10-20 ton/ha”. 
 “Jadi kalian semua yang ada disini harus hebat”. Prof Dedi tidak hentinya mengingatkan “Untuk itulah kalian semua dimagangkan di Taiwan. Untuk meningkatkan kapastisas, kemampuan, pengalaman kalian bagaimana Bertani yang baik. Bukan hanya memelihara saja, atau memproduksi tapi juga bagaimana mensortasi, packaging yang baik dan menjual produk kita dengan baik. Kembali ke Negara Indonesia menjadi job creator pertanian”

Sumber : http://bit.ly/2m9Owi5

Mentan Ingatkan Pejabat yang dilantik, Jangan KKN

Posted in Berita on Jul 30, 2019

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, melantik Pejabat Madya dan Pejabat Pratama lingkup kementerian Pertanian Senin (29/7) . Dalam kesempatan tersebut, Mentan mengingatkan kepada pejabat eselon I dan II yang dilantik mengenai masalah yang krusial yakni KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme).

Dalam upaya memberi contoh untuk bersih dari KKN, Amran mengatakan, dirinya menutup perusahaan racun tikus miliknya untuk terhindar dari praktek KKN, setelah mendapatkan amanah menjadi Menteri Pertanian

Contoh lainnya ungkap Amran, dirinya tidak pernah menerima titipan untuk menjadikan seseorang menjadi pejabat di Kementan, bahkan tak segan langsung mencoretnya bila dijumpai menjadi pejabat titipan.

Mentan mengatakan dirinya akan menjaga integritas sebagai pejabat negara, dan meminta seluruh pejabat Kementan agar juga mengikuti jejaknya.

"Kami ingin menjadi teladan bagi bawahan. Jadi saat ini kami minta jangan ada lagi titipan. Karena titipan itu bisa menghinakan pada yang menitip dan dititip," tegasnya.

Berikut Daftar Pejabat yang di lantik :

Pejabat eselon 1 (pejabat Madya)

  1. Dr. Ir. Momon Rusmon, Ms (Sekjen Kementerian Pertanian)
  2. Prof (R), Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr (Kepala BPPSDMP)
  3. Dr. Ir. Prihasto Setyanto, M.Sc. (Dirjen Hortikultura).
  4. Dr. Ir. Suwandi (Dirjen Tanaman Pangan)
  5. Dr. Ir. Sumardjo Gatot Irianto (Staf Ahli Menteri bidang Investasi Pertanian)

Pejabat eselon 2 (pejabat Pratama)

  1. Ir. Indah Megahwati, MP (Direktur Pembiayaan Pertanian, Ditjen PSP)
  2. Dr. Ir. Leli Nuryati M.Sc (Kapus Penyuluhan BPPSDMP)
  3. Dr. Ir. Siti Munifah, M.Si (Sekretaris BPPSDMP)
  4. Dr. Ir. Retno Sri Hartati M (Kepala Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian, Setjen Kementerian Pertanian).
  5. Ardi Praptono, SP. M.Agr (Direktur Perlindungan Perkebunan, Ditjen Perkebunan).
  6. Dr. drh. Kresno suharto (Kepala BB Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan, Surabaya, Ditjen Perkebunan).
  7. Ir. Sumardi Noor, M.Si (Kepala BB Pelatihan Pertanian, Ketindan, BPPSDMP).

Pemerintah Kota Yokote, Jepang Jajaki Kerjasama dengan Kementerian Pertanian

Posted in Berita on Jul 25, 2019

Selain pembangunan inftrastruktur, pemerintah Indonesia menjadikan pembangunan sumberdaya manusia sebagai prioritas utama. Sejalan dengan hal tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) menjadikan pengembangan SDM sebagai prioritas utama dimana kesuksesan pencapaian ketahanan pangan dan kesejahteraan petani bergantung pada SDM yang berkualitas. Untuk itu Kementan melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) selalu berupaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM di bidang pertanian melalui pendidikan, pelatihan serta penyuluhan.

Banyaknya SDM berkualitas di Indonesia mendorong Pemerintah Kota Yokote, Jepang untuk menjajaki kerjasama berupa program pelatihan dan magang bagi generasi muda untuk menggeluti bidang pertanian. Rabu, 24 Juli 2019 bertempat di Kantor Pusat BPPSDMP, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Bustanul Arifin menerima kunjungan Tim Goverment of Yokote in Akita Prefecture Jepang. Dalam kunjungan tersebut, tim ang dipimpin oleh Hotoshi Yamahatsu selaku Deputy Director Agriculture Division of Yakote City memaparkan proposal kerjasama magang bagi mahasiswa maupun generasi muda yang berasal dari Indonesia di Kota Yakote.

“Kami datang untuk menawarkan kerjasama bagi generasi muda yang memiliki minat di bidang pertanian untuk magang di Kota Yokote. Kota Yakote memiliki potensi pertanian yang cukup potensial, namun kami kekurangan tenaga kerja. Kerjasama yang kami ajukan tentunya tidak hanya menguntungkan pemerintah kota Yokote. Kami ingin kerjasama ini menguntungkan kedua belah pihak. Generasi muda dari Indonesia dapat menambah ilmu dan keterampilan dari kami dan dapat diterapkan di Indonesia sehingga dapat memajukan pertanian di Indonesia, papar Hotoshi Yamahatsu.

Pada kesempatan yang sama Kepala Pusat Pelatihan menjelaskan bahwa guna meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan mental petani muda dalam mengelola serta mengembangkan usaha pertanian, maka Kementerian Pertanian melalu Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) melakukan kerjasama dengan pemerintah Jepang dalam bentuk kegiatan Magang Jepang.

Kehadiran tim hari ini untuk menawarkan kerjasama berupa magang dan pelatihan di Kota Yokote. Hal ini tentu kita sambut baik, karena ini merupakan salah satu upaya Kementan untuk mengembangkan SDM petani muda pertanian agar menjadi enterpreneur di bidang pertanian. Tim ini akan melanjutkan kunjungannya ke Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi dan P4S Agro Farm Cianjur.

“Tentunya Kegiatan pelatihan petani Indonesia di Jepang sangat positif dan menguntungkan kedua belah pihak. Di sisi Jepang, untuk membantu petani Jepang dan dari sisi Indonesia pemagang selain mendapatkan pengalaman teknik pertanian juga yang utama adalah budaya disiplin dan kerja keras dari petani Jepang. Setelah melakukan magang di Jepang, mereka dapat berhasil dan meningkatkan taraf hidup keluarga dan sekaligus menjadi perintis di desanya untuk menarik kaum muda lainnya di sektor pertanian yang akhir-akhir ini kurang diminati kaum muda Indonesia”, jelas Bustanul. (lely)

Serah Terima Jabatan Dua Kepala Balai Besar Pelatihan

Posted in Berita on Jun 24, 2019

Perubahan jabatan mencerminkan adanya dinamika organisasi untuk menghadapi tantangan yang terus berubah dan tuntutan masyarakat yang terus meningkat. Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) pada Senin (24/6), telah melaksanakan serah terima jabatan Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku, Sabir, S.Pt., M.Si. dan Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan Kupang, drh. Bambang Haryanto, MM.

Sertijab dilaksanakan di Ruang Diorama yang dipimpin oleh Sekretaris BPPSDMP, Dr. Ir. Prihastyo Setyanto, M.Sc. serta disaksikan oleh Kepala Pusat Pendidikan Pertanian dan Kepala Pusat Pelatihan Pertanian. Sertijab juga dihadiri oleh Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama dan Pejabat Administrator lingkup BPPSDMP

Pusdiktan Tingkatkan Kualitas Data melalui PD DIKTI

Posted in Berita on Jun 19, 2019

Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) saat ini telah melakukan migrasi data pendidik Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian ke Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) pada Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD DIKTI). Hal ini sejalan dengan bertrasformasinya Sekolalah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) menjadi Polbangtan.

Penyelenggaraan PD DIKTI mengacu pada peraturan dan perundang-undangan pendidikan tinggi dan pembinaan basis data tunggal tetap berada dibawah Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang selanjutnya tertuang dalam peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2016.

Berdasarkan Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 49 Tahun 2015 tanggal 31 Desember 2015 tentang Kelas Jabatan di lingkungan Kementerian Riset, Teknologi, Pendidikan Tinggi, yang termasuk tenaga kependidikan di perguruan tinggi diantaranya: Arsiparis, Pranata Laboratorium Pendidikan, dan Pustakawan.

Kesuksesan penyelenggaraan dan pengelolaan sistem pendidikan tinggi ini tentunya harus diikuti pula oleh kesiapan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan dalam menyampaikan informasi keberadaan kondisinya. Dalam rangka mendukung hal tersebut, Pusat Pendidikan Pertanian, BPPSDMP mengadakan kegiatan workshop pembinaan tenaga pendidik dan kependidikan lingkup Polbangtan melalui basis data PD DIKTI yang dilaksanakan selama 3 hari (19–22 Juni 2019), di Hotel Arch Bogor, Jawa Barat.

Direktur Polbangtan Bogor, Dr. Ir. Siswoyo, MP pada saat membuka workshop ini mengatakan bahwa, “Tenaga pendidik merupakan sumber daya manusia yang sangat penting, khususnya dosen yang memberikan materi secara akademis kepada siswa. Tenaga pendidikan lainnya seperti pustakawan, pranata komputer, penata laboratorium lapangan pun menjadi pendukung berlangsungnya pendidikan. Workhsop ini sangat penting, dimana input data dari masing-masing personil penanggung jawab data dapat tekompilasi dengan pusat, sehingga pusat dapat mudah untuk melakukan pemetaan kebutuhan dosen dan tenaga pendidik lainnya”.

Selain itu Siswoyo mengungkapkan melalui workshop ini akan ada persamaan persepsi antara Kemenristek DIKTI dengan Kementan dalam hal penguatan data. Pada akhirnya melalui kegiatan ini diharapkan tercipta perubahan sistem pada pelaksanaan data pendidikan pertanian berupa basis data dosen diseluruh Polbangtan yang lengkap dan valid.

Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang peserta yang terdiri dari Wakil Direktur I Polbangtan, Kepala BAAK lingkup Polbangtan, Admin PD Dikti dari Polbangtan Bogor, Medan, Yoma, Malang, Gowa, Manokwari.(lely)