Wawasan Petani Lombok Tengah Ditingkatkan dengan Berbagi Pengalaman Dari Kegiatan IPDMIP

LOMBOK TENGAH - Kementan melalui proyek Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Project (IPDMIP) memfasilitasi kegiatan Kunjungan petani antar desa, Kamis (8/7/2021). Kegiatan ini juga dimanfaatkan untuk meningkatkan wawasan para petani melalui berbagi pengalaman.

Kunjungan petani antar desa dilakukan di Kelompok Tani Beriuk Maju Desa Bunut Baok Kecamatan Praya.  Kegiatan tersebut dikawal oleh Dinas pertanian Kabupaten Lombok Tengah.

Kunjungan petani antar Desa diikuti oleh 80 orang petani dari 7 desa lokasi pelaksanaan Sekolah Lapang (SL) Petani.  Kunjungan antar petani ini bertujuan antara lain menyediakan ruang  berbagi  pengalaman antar petani mengenai teknik budidaya, khususnya dalam penerapan teknologi yang dipelajari melalui sekolah lapang (SL).

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan Sekolah Lapang IPDMIP akan membantu petani.

"IPDMIP memiliki tujuan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, khususnya di daerah irigasi. Dan tentunya untuk mendukung peningkatan pendapatan petani," ujarnya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, mengatakan SL IPDMIP akan mengajarkan banyak hal kepada petani.

"SL IPDMIP itu akan mengajarkan kegiatan yang bisa meningkatkan produktivitas pertanian, dari hulu sampai hilir. Termasuk juga kegiatan on farm maupun off farm," ujarnya.

Haji Muhammad Najib,  salah seorang anggota Poktan Beriuk Maju, yang didaulat memberikan testimoni pengalamannya dalam mengikuti Sekolah Lapang (SL), membagikan pengalamannya.

“Sekolah Lapang berhasil membangun kesadaran dan meningkatkan keterampilan petani," katanya.

Najib menambahkan, teknik tanam jajar legowo terbukti meningkatkan hasil padi mencapai 1.8 ton per hektar, dengan efisiensi penggunaan pupuk sampai  50% .

Diakuinya, dia penerapan pupuk berimbang diterapkan. Sebelumnya melakukan pengukuran kadar hara tanah atau kesuburan tanah terlebih dahulu.   

Begitu juga dengan persemain, Najib menguraikan diawali dengan seleksi benih, dan perbaikan teknis semai. Dari hasil seleksi benih,  ditemukan benih hampa  cukup banyak padahal benih yang diseleksi berlabel ungu. 

“Kita juga diajarkan menggunakan terpal sebagai alas untuk memudahkan pencabutan bibit agar bibit tidak stress sehingga saat ditanam tidak lama layu," ungkapnya

H. Najib menjelaskan, ia merasa dapat tantangan dalam penerapan teknis budidaya yang diajarkan pada SL yang terkesan ribet dan mahal.

“Teknik semai dan tanam sering kita anggap merepotkan, kalau istilah sekarang, ribet . Juga terkesan mahal karena harus beli terpal, selain ongkos  tenaga kerja. Tetapi ternyata justru mengurangi biaya saat pencabutan benih, cukup satu atau dua orang karena kita tinggal mengangkat terpal saja,” katanya.   

Beda lagi yang disampaikan M. Fauzi, perwakilan Kelompok Tani Tandur Rinjani, Desa Wajageseng, Kecamatan Kopang, mempertanyakan strategi pemasaran pupuk kompos yang sudah bisa diprduksi petani setelah mengikuti SL.

“Kelompok kami sudah mampu memproduksi kompos, tetapi kami belum mampu melakukan pemasaran sehingga perlu difasilitasi pasarnya termasuk membuat kemasan dan label yang menarik," katanya.

Diceritakan Fauzi, kompos yang diproduksinya sudah dilakukan pengujian kadar PH bersama petugas BPP Kecamatan Kopang, dengan hasil pH netral.

Fihirudin, yang merupakan petani milenial, sekaligus ketua Kelompok Tani di Desa Bunut Baok, menyebutkan 4 (empat) kunci sukses petani yaitu ketersediaan air, penggunaan pupuk berimbang, pemasaran, dan penerapan teknologi budidaya. Dia menjelaskan manfaat jarwo selain meningkatkan hasil juga bisa sebagai ruang wisata petani.

“Kita senang melihat tanaman kita berbaris rapi, lurus dan seragam, sehingga hasil dapat, wisata dapat," jelasnya.

Menanggapai penyampaian petani, Kepala Dinas Pertanian Lombok Tengah, yang diwakili Kepala Bidang Penyuluhan Adjar Sapto Utamo, dalam tanggapannya menyampaikan rencana pemerintah daerah untuk membantu penyelesaian masalah petani. 

“Dinas Pertanian  sedang mengusulkan untuk membeli produksi kompos petani yang dibagikan kepada petani  untuk dipergunakan dilahannya, selain mengupayakan bantuan sarana produski seperti alat panen dan pasca panen,”  jelas Adjar Sapto Utamo.

Pengalaman tidak kalah seru disampaikan perwakilan penyuluh swadaya, Haji Arifin, yang juga sebagai pengusaha gabah.

“Pemerintah tidak mencabut subsidi pupuk kepada petani karena petani adalah pahlawan, khususnya dimasa pandemi covid 19 ini hanya sektor pertanian yang masih bisa bertahan,” ujarnya.

Demikian juga dengan petani dari Desa Lekor, Kecamatan Janapria yang mengharapkan  perbaikan harga jual produk  yang lebih menguntungkan petani.

Sementara koordinator kabupaten IPDMIP Lombok Tengah, Lalu Husni Ansyori, dalam kesempatan tersebut menekankan agar petani dan PPL menjaga keberlanjutan Sekolah Lapang.

"Caranya dengan melibatkan petani milennial dalam mengembangkan inovasi sektor pertanian, karena itu sangat penting untuk mempersiapkan regenerasi," ujarnya.(YTS/EZ)