
Jakarta — Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian menerima audiensi Atase Pertanian untuk penempatan Washington D.C. (Amerika Serikat), Roma (Italia), dan Jepang, Rabu (14/1/2026).
Audiensi tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari orientasi penugasan guna memberikan arahan terkait mandat, peran, serta tanggung jawab Atase Pertanian selama periode 2026–2029. Kegiatan ini juga bertujuan menyamakan persepsi terhadap isu strategis pertanian dan arah kebijakan Kementerian Pertanian, khususnya di bidang pengembangan sumber daya manusia pertanian.
Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menekankan pentingnya kerja sama internasional untuk penguatan SDM, penyuluhan, dan alih teknologi pertanian, BPPSDMP mendorong optimalisasi peran Atase Pertanian di negara-negara strategis.
Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa peran Atase Pertanian tidak berhenti pada fungsi diplomasi semata, tetapi harus menghasilkan kerja sama yang berdampak nyata.
“Atase Pertanian tidak hanya menjalankan fungsi diplomasi, tetapi juga menjadi penghubung strategis dalam penguatan SDM, penyuluhan, dan alih teknologi pertanian yang aplikatif,” ujar Idha Widi Arsanti.
Ia menekankan pentingnya fokus kerja sama internasional yang selaras dengan kebutuhan pembangunan pertanian nasional, terutama dalam pengembangan pelatihan, pendidikan, beasiswa, serta penguatan sistem penyuluhan.
Untuk penempatan Washington D.C., Atase Pertanian diarahkan memperkuat komunikasi dengan lembaga pembangunan internasional seperti World Bank, khususnya dalam penguatan sistem penyuluhan pertanian nasional, serta mengidentifikasi hasil riset terapan dari universitas dan lembaga riset terkemuka di Amerika Serikat yang siap diimplementasikan di tingkat petani.
Sementara itu, Atase Pertanian Roma difokuskan pada penguatan kemitraan dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD) dalam pengembangan SDM pertanian, pemberdayaan petani kecil, serta keberlanjutan program pembangunan pertanian perdesaan.
Adapun Atase Pertanian Jepang diarahkan untuk mengembangkan kerja sama pelatihan vokasi dan magang pertanian berbasis teknologi maju, mekanisasi, dan pertanian presisi, termasuk alih teknologi dan praktik terbaik dalam smart farming dan agribisnis modern.
Dalam audiensi tersebut juga dibahas rencana tindak lanjut berupa koordinasi rutin, penjajakan peluang beasiswa dan capacity building bagi SDM BPPSDMP dan penyuluh pertanian, serta pengembangan kerja sama pendidikan vokasi melalui skema double degree Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dengan mitra luar negeri.
Melalui optimalisasi peran Atase Pertanian di Washington D.C., Roma, dan Jepang, BPPSDMP menargetkan penguatan jejaring kerja sama internasional yang lebih terarah, aplikatif, dan selaras dengan kebutuhan pembangunan pertanian nasional serta berdampak langsung bagi petani Indonesia.
Dipublikasikan : 15 Jan 2026, Admin