(021) 7815380 - 7815480
Ubah Bahasa
EN | ID
| Pengumuman : Zero Toleransi Untuk Judol | Pengumuman : Waspada Abu Vulkanik | Pengumuman : Lima Strategi Utama Mitigasi Kekeringan Hadapi El Nino | Pengumuman : Migrasi dan Pemutakhiran Website BPPSDMP | Pengumuman : Batas Pelaporan Izin Kehadiran Pegawai | Pengumuman : ASNBerAHLAK

MUARO JAMBI — Gerakan Tanam Serentak (GERTAM) Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) dilaksanakan di Muaro Jambi (8/9/2026). 

Kegiatan dihadiri Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, dan Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto, bersama sejumlah pihak yang terlibat dalam pengembangan dan penerapan pertanian modern.

Salah satu teknologi yang diterapkan dalam kegiatan tersebut adalah drone seeder untuk menebarkan benih padi secara langsung pada lahan pertanaman. Teknologi ini menjadi bagian dari penerapan PM-AAS yang didorong Polbangtan Bogor dalam pelaksanaan GERTAM di Muaro Jambi.

Pemanfaatan teknologi dalam budidaya padi menunjukkan adanya perubahan dalam pengelolaan pertanian. Modernisasi tidak lagi hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga bagaimana proses budidaya dapat dilakukan secara lebih cepat, presisi, efisien, dan produktif.

PM-AAS merupakan pendekatan budidaya padi yang memadukan teknik budidaya dengan mekanisasi dan teknologi pertanian. Sistem tersebut dirancang untuk mengoptimalkan proses produksi yang sebelumnya banyak mengandalkan metode konvensional agar dapat dilakukan secara lebih terukur dan efisien.

PM-AAS tidak sekadar menggantikan pekerjaan manual dengan mesin. Sistem ini mengintegrasikan berbagai komponen budidaya, mulai dari teknik tanam, pengaturan populasi tanaman, mekanisasi, pengelolaan air, hingga pemanfaatan teknologi pertanian dalam satu kesatuan sistem produksi.

Salah satu pendekatan yang diterapkan adalah Tanam Benih Langsung (Tabela). Berbeda dengan metode yang mengharuskan benih melalui proses persemaian sebelum dipindahkan ke lahan, Tabela memungkinkan benih langsung ditempatkan pada area pertanaman menggunakan perangkat seperti drum seeder, direct seeder, maupun drone seeder. Selain itu, pengaturan populasi tanaman dilakukan secara lebih rapat untuk meningkatkan jumlah rumpun dalam satu hektare.

Pada aspek pengelolaan air, PM-AAS menerapkan metode Alternate Wetting and Drying (AWD) atau irigasi berselang. Metode tersebut memungkinkan pengelolaan kebutuhan air tanaman secara lebih efisien dengan tidak mempertahankan kondisi lahan dalam keadaan tergenang secara terus-menerus.

Mekanisasi juga menjadi bagian penting dalam sistem tersebut. Traktor dan rotari digunakan dalam pengolahan lahan, sementara drone dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pemupukan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman. Pada tahap panen, penggunaan combine harvester dapat mendukung proses pemanenan secara lebih cepat dan efisien.

Dengan pendekatan tersebut, PM-AAS tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi kerja, tetapi juga produktivitas pertanian. Sistem ini ditargetkan mampu meningkatkan produktivitas dari kisaran 5–6 ton per hektare menjadi sekitar 10–13 ton per hektare.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya inovasi dan teknologi dalam meningkatkan produktivitas pertanian serta efisiensi produksi.

“Itu produksinya bisa naik dua kali lipat. PM-AAS itu kombinasi antara metode Amerika, metode Indonesia, dan metode China. Itu kami teliti langsung. Produksinya bisa 12 ton atau katakanlah 10 ton per hektare,” ujar Amran.

Sejalan dengan penerapan teknologi tersebut, penguatan sumber daya manusia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari modernisasi pertanian. 

Kepala BPPSDMP Idha Widi Arsanti menekankan pentingnya membangun budaya inovasi di kalangan penyuluh dan pelaku pertanian agar teknologi dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan di masing-masing wilayah.

“Yang kita bangun bukan hanya percepatan tanam, tetapi juga budaya inovasi. Penyuluh menjadi ujung tombak transformasi pertanian dengan menghadirkan solusi yang adaptif sesuai kondisi wilayah,” ujar Idha.

Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin menekankan keterlibatan kelembagaan pendidikan vokasi dan generasi muda pertanian dalam mengawal program pemerintah.

​"Peran institusi pendidikan pertanian seperti Polbangtan tidak hanya melahirkan SDM unggul, tetapi juga bertanggung jawab secara langsung mengawal program Akselerasi Tanam, Pompanisasi, dan Oplah di wilayah pendampingan masing-masing. Sinergi antara akademisi, pendamping, dan petani menjadi motor penggerak pencapaian swasembada," jelas Kapusdiktan.

Sementara itu, Direktur Polbangtan Bogor Yoyon Haryanto menegaskan bahwa keterlibatan perguruan tinggi vokasi pertanian dalam penerapan teknologi merupakan bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia pertanian yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Sebagai institusi pendidikan vokasi di bidang pertanian, Polbangtan Bogor tidak hanya berperan dalam memberikan pembelajaran secara akademik, tetapi juga mendorong penerapan teknologi dan inovasi secara langsung di lapangan.

“Inilah yang akan mempercepat terwujudnya swasembada pangan sekaligus mendorong pertanian Indonesia menjadi lebih modern, efisien, dan berkelanjutan,” ujar Yoyon.

Penerapan drone seeder dalam GERTAM PM-AAS di Muaro Jambi menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi mulai terintegrasi dalam proses budidaya padi. Penggunaan teknologi tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran manusia sepenuhnya, melainkan mendukung pekerjaan agar dapat dilakukan secara lebih efektif dan terukur.

Pada akhirnya, modernisasi pertanian tetap membutuhkan sinergi antara sumber daya manusia, teknologi, dan sistem budidaya yang tepat. Tanah, air, benih, serta keterampilan manusia tetap menjadi bagian penting dalam produksi pangan. Teknologi hadir untuk memperkuat bagaimana seluruh komponen tersebut dapat bekerja secara lebih efisien.

Pemanfaatan drone seeder menjadi salah satu langkah dalam proses tersebut. Dari proses tanam hingga panen, semakin banyak teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung produktivitas dan efisiensi pertanian.

Melalui PM-AAS, transformasi pertanian tidak hanya menjadi sebuah konsep, tetapi mulai diterapkan secara nyata di lahan. Muaro Jambi menjadi salah satu ruang pembuktian bahwa modernisasi pertanian dapat berjalan melalui kolaborasi antara teknologi, sumber daya manusia, dan inovasi di lapangan.

Dipublikasikan : 08 Okt 2026, Admin