
CIAWI — Temu Tani Nasional 2025 dan Rakernas I HKTI resmi dibuka di BBPMKP Ciawi, Rabu (3/12/2025), dihadiri lebih dari 1.500 peserta dari berbagai elemen pertanian.
Hadir dalam kegiatan ini Menteri Perdagangan Budi Santoso, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto), serta para pejabat dan pemangku kepentingan sektor pertanian.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Ida Widi Arsanti, menegaskan bahwa Temu Tani Nasional 2025 adalah momentum strategis untuk menyatukan arah pembangunan pertanian, terutama dalam menyiapkan SDM yang adaptif dan unggul.
“Hari ini kita mengonsolidasikan kekuatan pertanian Indonesia. Semua hadir: penyuluh, petani, organisasi pemuda, hingga dunia usaha. SDM pertanian harus lebih kompetitif agar mampu menjawab tantangan masa depan,” ujar Santi.
Menurutnya, daya saing pertanian Indonesia tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan infrastruktur, tetapi juga oleh kapasitas manusianya. Karena itu, penguatan soft skill, digital skill, manajemen usaha tani, dan standar pasar global menjadi prioritas dalam program BPPSDMP.
Setelah laporan penyelenggara, dilaksanakan Penandatanganan Kerja Sama antara Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian. Penandatanganan MoU ini menjadi langkah strategis yang menyatukan dua mesin besar: basis produksi pertanian nasional dan jejaring diplomasi perdagangan Indonesia di 33 negara.
MoU ditandatangani oleh Kepala BPPSDMP Idha Widi Arsanti dan Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Fajarini Puntodewi, disaksikan Mendag Budi Santoso dan Wamentan Sudaryono. Fokus kerja sama meliputi pelatihan standar ekspor, pendampingan peningkatan kualitas produk, business matching, dan akses promosi internasional.

Wakil Menteri Pertanian sekaligus Ketua DPN HKTI, Sudaryono, menegaskan bahwa arah pembangunan pangan di era Presiden Prabowo Subianto bergerak pada tiga target besar: swasembada, kedaulatan pangan, dan ketahanan nasional. Ia menyebut fase ini sebagai titik balik sejarah sektor pertanian.
“Sekaranglah eranya pertanian dan pangan menjadi prioritas nasional. Kalau tidak ikut ambil peran di fase ini, sudah pasti keliru,” tegasnya.
Sudaryono menekankan bahwa swasembada bukan sekadar program kerja, tetapi fondasi ketahanan nasional dalam menghadapi volatilitas geopolitik dan perubahan iklim.
Dalam sambutannya, Mendag Budi Santoso menegaskan capaian swasembada pangan dan peluang ekspor produk pertanian Indonesia.
“Pangan adalah komoditas yang dibutuhkan setiap saat, pangan adalah komoditas yang penting,” tegasnya.
“Setelah swasembada dan kebutuhan kita terpenuhi, langkah berikutnya adalah mendorong komoditas unggulan untuk ekspor. Anggota HKTI punya peluang masuk program ekspor UMKM, dan atase perdagangan kami siap membantu mencari buyer sesuai komoditas.”
Budi menambahkan bahwa tren ekspor menunjukkan daya saing sektor pertanian yang positif. Total ekspor Januari–Oktober 2025 naik 6,96%, sedangkan ekspor pertanian melonjak 26,56%, tertinggi di antara sektor lain. Tren lima tahun terakhir (2020–2024) konsisten naik 7,17%. Kemendag telah memfasilitasi 1.134 business matching sepanjang tahun dengan transaksi Rp2,4 triliun, dan 70% peserta UMKM sebelumnya belum pernah ekspor.
“Ini keberhasilan petani, UMKM, dan seluruh rantai pasok. Produk kita jelas dicari dunia,” ujarnya.
Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi, menyebut Rakernas HKTI sebagai momentum membangun konsensus nasional bahwa petani Indonesia harus maju, makmur, dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
“Ini tugas kita bersama untuk memastikan petani, nelayan, dan rakyat Indonesia hidup makmur dan sejahtera,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo telah menempatkan swasembada pangan sebagai prioritas nasional dalam RPJMN 2025–2029.
Penguatan sektor pertanian juga terlihat dari data terbaru. Produksi beras nasional Desember 2025 mencapai 34,77 juta ton, naik 13,54%. Deregulasi pupuk memotong 145 regulasi, dan HET pupuk bersubsidi turun 20%. Nilai Tukar Petani (NTP) meningkat dari 120,3 (Sept 2024) menjadi 124,05 (Nov 2025). Data ini menandakan biaya produksi lebih terjangkau, produktivitas meningkat, dan daya beli petani menguat.
Acara Temu Tani Nasional 2025 menjadi wadah besar konsolidasi dunia pertanian. Peserta berasal dari berbagai unsur: 500 pengurus HKTI, 300 peserta asosiasi petani, 200 pemuda agribisnis, 150 penyuluh, hingga 100 anggota kelompok tani/gapoktan. Kegiatan ini dirangkai dengan business matching, pertemuan organisasi mahasiswa pertanian dan peternakan, serta pameran inovasi pertanian untuk memperluas jejaring dan mendorong partisipasi generasi muda.
Dipublikasikan : 03 Des 2025, Admin